Berita

100 Generasi Muda Pelestari Hutan Ambil Bagian dalam Puncak Hari Mangrove Sedunia 2026 di Bali, Wujud Kolaborasi Nyata Menjaga Pesisir Indonesia

Minggu, 26 Jul 2026 | Siaran Pers

100-generasi-muda-pelestari-hutan-ambil-bagian-dalam-puncak-hari-mangrove-sedunia-2026-di-bali-wujud-kolaborasi-nyata-menjaga-pesisir-indonesia

SIARAN PERS
Nomor: SP. 322/HKLN/07/2026

Denpasar, 26 Juli 2026 – Sebanyak 100 generasi muda binaan Kementerian Kehutanan turut bergabung dalam Gerakan Nasional Peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026 yang diselenggarakan di Kawasan Ekowisata Mangrove Batu Lumbang dan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Denpasar, Bali. Kehadiran mereka menjadi simbol semakin kuatnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga ekosistem mangrove sebagai benteng pesisir sekaligus investasi bagi masa depan bangsa, sejalan dengan tema peringatan tahun ini, “Menjaga Mangrove, Mengamankan Generasi Mendatang.”

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Kehutanan bersama Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) ini menjadi momentum nasional untuk memperkuat kepemimpinan Indonesia dalam perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove, memperluas partisipasi masyarakat dalam rehabilitasi pesisir, serta menegaskan pentingnya mangrove sebagai benteng ekologi dan bagian penting dari aksi iklim Indonesia.

Seratus Generasi muda yang hadir merupakan generasi muda binaan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, yang terdiri atas anggota Saka Wanabakti, komunitas generasi muda peduli lingkungan, serta mitra pembinaan konservasi. Kehadiran mereka merupakan bagian dari upaya Kementerian Kehutanan untuk memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan dan pelopor konservasi sumber daya alam melalui aksi nyata di lapangan.

Dalam laporannya pada Puncak Peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026, Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menyampaikan bahwa Indonesia merupakan negara dengan ekosistem mangrove terbesar di dunia, dengan luas sekitar 3,45 juta hektare atau sekitar 23 persen dari total mangrove dunia. Potensi tersebut merupakan anugerah sekaligus amanah yang harus dijaga bersama melalui komitmen, kolaborasi, dan inovasi seluruh pemangku kepentingan.

Wamenhut Rohmat Marzuki menegaskan bahwa mangrove bukan hanya berfungsi sebagai pelindung wilayah pesisir dari abrasi dan dampak perubahan iklim, tetapi juga sebagai penyimpan karbon biru, habitat keanekaragaman hayati, serta sumber penghidupan masyarakat pesisir.

“Menjaga mangrove bukan hanya tentang melindungi pohon di kawasan pesisir. Kita sedang menjaga kehidupan, memperkuat ketahanan iklim, melindungi masyarakat pesisir, dan yang terpenting mengamankan masa depan generasi mendatang. Karena itu, saya mengajak generasi muda untuk menjadi pelopor perubahan, bukan sekadar penonton. Generasi muda hari ini adalah penjaga keberlanjutan mangrove Indonesia di masa depan,” tegasnya.

Sejalan dengan arahan tersebut, Kementerian Kehutanan terus memperkuat keterlibatan generasi muda dalam berbagai program pelestarian hutan dan lingkungan. Melalui Pusgenri, pembinaan dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan konservasi, aksi rehabilitasi, pengembangan kepemimpinan, hingga penguatan jejaring generasi muda pelestari hutan di berbagai daerah.

Salah satu momen penting dalam kegiatan ini adalah penyerahan simbolis bibit mangrove kepada perwakilan generasi muda, Sdri. I Dewa Ayu Agung Pradnyanita, perwakilan dari Genries yang juga merupakan Kader Konservasi Alam binaan Balai KSDA Bali. Penyerahan tersebut menjadi simbol kepercayaan sekaligus harapan agar generasi muda terus menjadi garda terdepan dalam menjaga dan memulihkan ekosistem mangrove di Indonesia.

Bagi generasi pelestari hutan, keterlibatan dalam Peringatan Hari Mangrove Sedunia bukan sekadar menghadiri sebuah acara nasional, tetapi menjadi pengalaman belajar sekaligus ruang untuk menunjukkan bahwa generasi muda mampu mengambil peran nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Salah seorang peserta Genries menyampaikan antusiasmenya mengikuti kegiatan tersebut. “Bagi kami, menanam mangrove bukan sekadar kegiatan seremonial. Ini adalah cara kami menunjukkan bahwa generasi muda siap mengambil bagian dalam menjaga alam. Kami ingin menjadi generasi yang tidak hanya menikmati manfaat hutan dan pesisir, tetapi juga mewariskannya kepada generasi berikutnya,” ujar salah satu peserta.

Selain penanaman mangrove bersama, rangkaian Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026 juga diisi dengan berbagai kegiatan edukatif, antara lain bimbingan teknis inovasi dan pemulihan ekosistem mangrove, peluncuran video dokumenter, podcast, sarasehan multipihak, talk show, hingga dialog nasional mengenai perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove. Seluruh rangkaian tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam menjaga keberlanjutan ekosistem mangrove Indonesia.

Melalui keterlibatan 100 generasi muda tersebut, Peringatan Hari Mangrove Sedunia Tahun 2026 tidak hanya menjadi momentum penanaman mangrove, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran, kolaborasi, dan regenerasi kepemimpinan lingkungan. Kementerian Kehutanan meyakini bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove akan semakin kuat apabila didukung oleh generasi muda yang memiliki kepedulian, pengetahuan, serta keberanian untuk mengambil aksi nyata dalam menjaga kelestarian alam Indonesia.


Informasi lebih lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan,
Luckmi Purwandari

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri