67 Anak Muda Kalbar Gagas Inovasi Cegah Karhutla
Rabu, 07 Okt 2026 | Berita

67 anak muda Kalimantan Barat yang tergabung dalam kegiatan Forest Youthverse Resilience (FYVR) Summit berkumpul untuk melahirkan berbagai gagasan dan inovasi untuk mendukung pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memperkuat upaya pelestarian hutan dan lingkungan.
Kegiatan yang diselanggarakan Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, bekerja sama dengan Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Wilayah X Pontianak dan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura.
Sebanyak 11 kelompok Genries (Generasi Pelestari Hutan) mempresentasikan inovasi beserta manfaat dan rencana aksinya. Pembelajaran diperkuat melalui Fireline Experience bersama Manggala Agni Daops Kalimantan VIII/Pontianak. Genries mengenal peralatan, simulasi pemadaman, prosedur keselamatan, serta pentingnya pencegahan sebelum api berkembang menjadi kebakaran. Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa pengendalian karhutla tidak hanya dilakukan saat api muncul, tetapi membutuhkan upaya pencegahan dan keterlibatan berbagai pihak sejak dini.
Plt. Kepala BPHL Wilayah X Pontianak, Irwan Instanto Purwadi Damaryono mengatakan keterlibatan generasi muda penting untuk memperluas gerakan pencegahan karhutla di Kalimantan Barat.
“Pencegahan karhutla membutuhkan keterlibatan banyak pihak, termasuk generasi muda. Melalui Forest Youthverse Resilience, kami berharap Genries mampu membawa gagasan, kreativitas, dan cara-cara baru untuk ikut mencegah karhutla sekaligus menjaga hutan Kalimantan Barat,” ujar Irwan.
Dari proses tersebut lahir beragam inovasi, antara lain Fireguard, Rumah Asap, Sekat Bakar, Kalbar Fireguard “Kemarau Siaga, Gambut Terjaga”, Sigap Rimba, dan SI-GABUS. Gagasan lainnya mencakup rehabilitasi dan reboisasi, pemanfaatan limbah penggergajian kayu untuk mengurangi pembakaran terbuka, pemberdayaan mangrove berbasis pemuda dan digital, pengelolaan DAS dan air bersih, serta gerakan Satu Orang Satu Pohon.
Kepala Pusgenri Kementerian Kehutanan, Luckmi Purwandari, menegaskan pentingnya pengalaman lapangan agar generasi muda tidak hanya memahami isu kehutanan dari ruang kelas atau media.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengetahui persoalan hutan dan karhutla, tetapi melihat langsung bagaimana tantangan itu dihadapi di lapangan. Dari pengalaman tersebut, mereka belajar membaca persoalan, berdiskusi, dan mencari cara untuk ikut mengambil bagian.”
Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura, Farah Diba, turut mendorong Genries untuk berani mencoba dan membangun kolaborasi.
“Jangan takut untuk mencoba, turun ke lapangan, dan membuat sesuatu yang baru. Kalian tidak harus melakukan semuanya sendiri. Bangun kolaborasi dengan kampus, pemerintah, masyarakat, komunitas, dan berbagai pihak agar gagasan dapat terus berkembang,” ujar Farah.
Mengusung tema “Forest Youth for Resilient Forests: Generasi Tangguh Menangani Karhutla, Menguatkan Hutan, Mewujudkan Masa Depan Berkelanjutan”, FYVR memberi ruang kepada generasi muda untuk belajar langsung dari persoalan di lapangan dan menerjemahkannya menjadi solusi.
Pusgenri mendorong agar inovasi yang lahir melalui FYVR tidak berhenti pada pitching, tetapi terus dikembangkan melalui pendampingan dan kolaborasi dengan perguruan tinggi, UPT Kementerian Kehutanan, pemerintah daerah, masyarakat, komunitas, dan mitra lainnya.
Sumber:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Badan P2SDM
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



