Berita

Dedikasi Rimbawan di Kalbar, Berjuang Padamkan Api dan Selamatkan Satwa

Jumat, 23 Okt 2026 | Berita

article-98

Kalimantan Barat, 23 Oktober 2026 — Di tengah kepungan kabut asap, keterbatasan air, dan medan hutan yang sulit dijangkau, Mohamad Sahir atau akrab disapa Yeye (42), Penyuluh Kehutanan Ahli Pertama pada Resor BKSDA Sukadana dan Karimata, terus menjalankan tugasnya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Bersama rekan-rekannya, ia berjibaku memadamkan api sekaligus menyelamatkan satwa liar yang terdampak kebakaran.

Menurutnya, periode kemarau Agustus - Oktober 2026 ini merupakan periode terberat. Selama dua bulan, ia bersama personel lainnya difokuskan menangani karhutla di wilayah Resor Kendawangan dan Pembedilan. Di tengah upaya pemadaman, petugas juga menghadapi ancaman terhadap habitat satwa dilindungi, termasuk orangutan.

Bersama tim Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI), petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementerian Kehutanan bergerak melakukan evakuasi orangutan yang terdampak kebakaran. Upaya tersebut berhasil menyelamatkan 51 individu orangutan dari ancaman kebakaran.

Bencana Karhutla memicu efek domino yang kompleks. Kehilangan sumber pakan di hutan membuat puluhan orangutan terpaksa keluar kawasan dan masuk ke perkebunan warga, memakan serta merusak tanaman muda milik masyarakat. Situasi ini memicu kepanikan dan kemarahan warga sekitar. Sebagai garda terdepan Kementerian Kehutanan, Yeye dan rekan-rekannya harus berbesar hati menerima keluh kesah hingga kemarahan warga, sembari terus memberikan pengertian dan mengevakuasi satwa agar konflik tidak meluas.

"Kita banyak dapat aduan dari masyarakat banyak orang utan yang lari ke pemukiman akibar karhutla. Hal ini terjadi karena mereka kekurangan makanan, sehungga makan hasil tanaman warga. Luar biasa ini dampaknya bukan hanya kepada hutan dan satwa tapi masyarakat juga kena dampak," kata Yeye.

Yeye juga sering menjadi tempat pelampiasan emosi masyarakat. Oleh sebab itu, Yeye dan rekan-rekannya tak hanya bertugas mengendalikan api dan mengevakuasi satwa, tetapi juga memberikan pemahaman kepada masyarakat agar konflik antara manusia dan satwa tidak semakin meluas.

Tantangan di lapangan tidak ringan. Untuk mencapai titik kebakaran, petugas harus berjalan kaki berkilo-kilometer menembus kawasan hutan. Keterbatasan sumber air membuat pemadaman dilakukan secara manual menggunakan ranting pohon. Sementara itu, angin kencang kerap membuat bara kembali menyala dan memperpanjang proses pemadaman.

Dalam kondisi tertentu, petugas harus bermalam di dalam kawasan hutan dengan persediaan air minum terbatas. Paparan asap dan aktivitas fisik yang berat juga menimbulkan gangguan kesehatan, seperti sesak napas dan tenggorokan kering.

"Selama proses pemadaman juga kita kena gangguan kesehatan, sesak nafas, kadang tenggorokan kering. Jadi kami itu dikasih atasan kami lima hari bertugas kemudian pulang istirahat supaya begitu bergiliran," ungkapnya.

Di tengah tugas yang menguras tenaga, Yeye juga harus menahan rindu kepada keluarganya di Pontianak. Jika biasanya ia dapat pulang sebulan sekali, kondisi siaga karhutla membuatnya harus lebih lama bertahan di posko penugasan. Situasi semakin berat ketika ia mendapat kabar bahwa istri dan anaknya turut jatuh sakit akibat dampak kabut asap.
Komunikasi melalui telepon menjadi penguat bagi Yeye untuk tetap menjalankan tugas. Baginya, pengabdian sebagai rimbawan bukan semata-mata memadamkan api, melainkan juga menjaga kelestarian hutan, melindungi satwa, dan memastikan keselamatan masyarakat

"Kita berharap cepat hujan supaya kebakaran ini cepat berakhir," harap Yeye.

Dedikasi Yeye dan para petugas di lapangan menjadi gambaran perjuangan rimbawan Kementerian Kehutanan dalam menghadapi karhutla. Di tengah keterbatasan dan risiko yang dihadapi, mereka terus berupaya melindungi hutan, menyelamatkan satwa liar, serta mengurangi dampak kebakaran bagi masyarakat.


Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri