Data Terbaru Kemenhut: Hotspot High Confidence Nasional Turun 260 Titik
Minggu, 06 Sep 2026 | Siaran Pers

SIARAN PERS
Nomor: SP. 498/HKLN/09/2026
Jakarta, 6 September 2026 - Jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional menunjukkan penurunan pada 5 September 2026. Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian Karhutla di Sumatera Selatan.
Berdasarkan pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan, terdeteksi 558 hotspot high confidence, turun 260 titik dibandingkan 818 hotspot pada 4 September 2026. Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan tetap siaga penuh dan saat ini memperkuat perhatian terhadap penanganan karhutla di Sumatera Selatan, tanpa mengurangi kewaspadaan di wilayah prioritas lainnya.
Data SiPongi yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan pada Sabtu, 5 September 2026 pukul 21.05 WIB, sebaran hotspot high confidence di enam provinsi prioritas sebagai berikut:
• Kalimantan Tengah: 178 titik, turun dari 252 titik;
• Sumatera Selatan: 120 titik, turun dari 165 titik;
• Kalimantan Barat: 54 titik, turun dari 124 titik;
• Kalimantan Selatan: 14 titik, dari sebelumnya 4 titik;
• Riau: 12 titik, turun dari 13 titik; dan
• Jambi: 6 titik, turun dari 14 titik.
Secara umum, lima dari enam provinsi prioritas menunjukkan penurunan hotspot high confidence. Kalimantan Tengah masih mencatat jumlah tertinggi, sementara Sumatera Selatan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian khusus dengan 120 hotspot high confidence yang masih terdeteksi. Penguatan operasi terus dilakukan untuk mencegah kebakaran meluas dan menekan potensi dampak asap terhadap masyarakat.
Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi tetap perlu diverifikasi melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.
Perkembangan positif terpantau di Kalimantan Barat. Hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang turun di sebagian wilayah Kalimantan Barat pada malam 4 September membantu pembasahan lahan di tengah upaya pengendalian karhutla. Pada pemantauan berikutnya, hotspot high confidence di Kalimantan Barat turun cukup signifikan dari 124 titik pada 4 September menjadi 54 titik pada 5 September, atau berkurang sebanyak 70 titik.
Kondisi tersebut menjadi perkembangan positif, namun operasi dan pemantauan tetap dilanjutkan. Hujan belum terjadi secara merata dan pada lokasi tertentu kondisi asap masih terpantau. Karena itu, pembasahan, mopping up, patroli, dan pengecekan lapangan tetap diperlukan, terutama pada lahan gambut yang berpotensi menyimpan bara di bawah permukaan.
Perhatian saat ini juga diperkuat di Sumatera Selatan. Meskipun hotspot high confidence menurun dari 165 menjadi 120 titik, jumlah tersebut masih menjadi yang kedua tertinggi di antara enam provinsi prioritas setelah Kalimantan Tengah.
Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, dan pendinginan pada areal yang telah terbakar. Pengawasan juga diperkuat untuk memastikan api yang telah ditangani tidak kembali menyala.
Operasi pengendalian melibatkan Manggala Agni Kemenhut bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak lainnya.
Selain operasi darat, sebanyak 53 unit armada udara dikerahkan untuk mendukung pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat. Dari jumlah tersebut:
• 19 armada digunakan untuk patroli udara dan mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC); dan
• 34 armada digunakan untuk operasi water bombing.
Pengerahan operasi udara dilakukan berdasarkan kondisi dan kebutuhan lapangan. OMC juga terus diupayakan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kondisi meteorologis untuk membantu pembasahan lahan dan mendukung operasi pengendalian.
Selain perkembangan api dan hotspot, pemerintah terus memantau kualitas udara, kondisi asap, dan jarak pandang. Peta kualitas udara BMKG berbasis PM2,5 menunjukkan kondisi yang masih bervariasi. Sebagian wilayah Sumatera dan Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, sementara banyak wilayah Indonesia lainnya berada pada kategori baik hingga sedang.
Informasi BMKG penerbangan pada malam 5 September menunjukkan kondisi jarak pandang di wilayah prioritas sebagai berikut:
• Palembang: 10 kilometer atau lebih, berawan;
• Palangka Raya: 8 kilometer, berawan;
• Pontianak: 2 kilometer, berasap;
• Banjarmasin: 9 kilometer, cerah berawan;
• Pekanbaru: 8 kilometer, cerah berawan; dan
• Jambi: 7 kilometer, berawan.
Kondisi Sumatera Selatan juga terus menjadi perhatian karena pada siang 5 September BMKG sempat mencatat jarak pandang di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang sekitar 5 kilometer dengan kondisi berasap. Pada pengamatan malam hari, kondisi membaik menjadi 10 kilometer atau lebih dan berawan. Perubahan tersebut menunjukkan kondisi asap dan jarak pandang dapat berubah dalam waktu relatif cepat mengikuti aktivitas kebakaran, angin, kelembapan, serta kondisi atmosfer.
Di Kalimantan Barat, meskipun hotspot mengalami penurunan setelah sebagian wilayah diguyur hujan, kondisi asap masih perlu dicermati. Pada malam 5 September, BMKG mencatat jarak pandang di Pontianak sekitar 2 kilometer dengan kondisi berasap. Di wilayah Kalimantan Barat lainnya, Putussibau bahkan tercatat berasap dengan jarak pandang sekitar 1 kilometer.
Kementerian Kehutanan bersama instansi terkait terus memantau hotspot, kondisi kebakaran di lapangan, curah hujan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, dan jarak pandang secara terpadu. Informasi tersebut digunakan untuk menentukan prioritas pengerahan personel, operasi darat dan udara, serta langkah perlindungan masyarakat.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat di wilayah terdampak asap juga diminta terus mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang serta menyesuaikan aktivitas apabila kondisi lingkungan memburuk.
Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran diminta segera melapor agar dapat ditindaklanjuti petugas sedini mungkin melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
YouTube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: @kemenhut
X: @kemenhut_ri



