Berita

Di Vienna, Indonesia Tawarkan Konsep Multi Usaha Kehutanan untuk Bioekonomi Dunia

Rabu, 04 Mar 2026 | Siaran Pers

di-vienna-indonesia-tawarkan-konsep-multi-usaha-kehutanan-untuk-bioekonomi-dunia

SIARAN PERS
Nomor: SP. 66/HKLN/03/2026

Delegasi Indonesia menegaskan komitmennya dalam mentransformasi sektor kehutanan melalui strategi Multi Usaha Kehutanan (MUK) pada ajang Global Summit: Advancing Sustainable Forest-Based Bioeconomy Approaches yang berlangsung di Vienna, Austria. Strategi ini dipresentasikan sebagai aksi nyata Indonesia dalam mengimplementasikan pengelolaan hutan lestari (Sustainable Forest Management) untuk memacu produktivitas hutan dunia.

Delegasi Indonesia, yang juga Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan (IPHH) Krisdianto, menyampaikan bahwa penguatan bioekonomi berbasis hutan di Indonesia kini memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2023 (UU Cipta Kerja).

“Manfaat hutan yang dapat memberikan keuntungan secara ekonomi tidak lagi hanya bertumpu pada hasil kayu, namun juga mencakup hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, hingga wisata alam. Melalui kerangka Multi Usaha Kehutanan (MUK), perizinan pemanfaatan ini telah terintegrasi dalam Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH),” ujar Krisdianto dalam Country Report Indonesia di Vienna.

Krisdianto menambahkan bahwa transformasi ini telah diikuti dengan revisi Rencana Kerja Usaha (RKU) dan Rencana Kerja Tahunan (RKT) oleh para pemegang izin guna memaksimalkan potensi ekonomi hutan secara inklusif.

“Pengelolaan hutan lestari bukan hanya tugas Pemerintah, melainkan tanggung jawab seluruh pihak, terutama mereka yang mengambil manfaat dari hutan. Indonesia mendukung penuh Vienna Call for Actions sebagai panduan global masa depan,” tegasnya.

Pertemuan tingkat tinggi ini dibuka oleh Menteri Federasi Pertanian dan Kehutanan Republik Austria, Norbert Totschnig. Ia menekankan bahwa hutan adalah kunci menjawab tantangan perubahan iklim dan transisi menuju bioekonomi berkelanjutan. Pengelolaan hutan lestari harus menjadi fondasi agar nilai ekonomi berjalan selaras dengan perlindungan keanekaragaman hayati.

Global Summit ini dihadiri oleh perwakilan dari 60 negara dan 120 organisasi internasional, termasuk FAO, UNFF, dan ITTO. Dalam berbagai sesi, Indonesia bersama negara-negara seperti Finlandia, Jepang, dan Australia, menyepakati pentingnya inovasi teknologi, kepastian hukum, serta sistem traceability (ketertelusuran) rantai pasok untuk meningkatkan kepercayaan pasar global terhadap produk berbasis hutan.

Beberapa poin strategis yang menjadi sorotan dalam pertemuan ini meliputi:

  • Konstruksi Kayu: Solusi rendah karbon untuk bangunan masa depan.
  • Potensi Non-Kayu: Penguatan nilai tambah lokal dari hasil hutan bukan kayu untuk kesejahteraan masyarakat.
  • Inovasi Pembiayaan: Mendorong instrumen pembiayaan inovatif dan kemitraan publik-swasta guna menutup celah pendanaan kehutanan global.

Hasil dari pertemuan ini, berupa dokumen Vienna Call for Actions dan Co-Chairs Summary, akan dibawa ke pertemuan UN Forum on Forest (UNFF) ke-21 pada Mei 2026 dan pertemuan Committee on Forestry (COFO) ke-28 pada September 2026 mendatang.

Melalui forum ini, Indonesia kembali mempertegas posisinya sebagai pemain kunci yang mampu menyelaraskan kepentingan ekonomi nasional dengan komitmen pelestarian hutan di tingkat global.


Jakarta, 4 Maret 2026

Informasi lebih lanjut:
Direktur Iuran dan Penatausahaan Hasil Hutan,
Krisdianto

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri