Berita

Generasi Baru Terus Bertumbuh di Cagar Alam Jantho, Orangutan Marconi Terpantau Bersama Anak Keduanya

Senin, 12 Okt 2026 | Siaran Pers

generasi-baru-terus-bertumbuh-di-cagar-alam-jantho-orangutan-marconi-terpantau-bersama-anak-keduanya

SIARAN PERS
Nomor: SP. 602/HKLN/10/2026

Banda Aceh, 11 Oktober 2026. Jumat pagi, 2 Oktober 2026, Tim Post Release Monitoring (PRM) Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho pada saat melakukan pemantauan di kawasan Cagar Alam, melihat keberadaan satu individu orangutan dewasa bersama anaknya di atas pohon yang bergerak mendekati areal Kandang Adaptasi. Setelah dilakukan pengamatan lebih dekat, individu tersebut terkonfirmasi adalah Marconi.

Anak orangutan tersebut diperkirakan berusia sekitar 2–3 tahun berjenis kelamin jantan dengan kondisi fisik yang tampak sehat. Dalam pengamatan tim, anak Marconi terlihat tidak selalu berada dalam pelukan induknya. Ia mulai aktif bergerak dan mengembangkan keterampilannya di atas pohon, namun tetap berada dekat dengan Marconi.

Marconi menjalani rehabilitasi selama tiga tahun di Pusat Karantina dan Rehabilitasi Orangutan SOCP Sibolangit, Sumatera Utara sejak 2009, sebelum dilepasliarkan di Jantho pada 2011. Marconi menjadi salah satu dari beberapa orangutan pertama yang dilepasliarkan di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho sejak program reintroduksi di kawasan tersebut dimulai.

Pertemuan ini menjadi catatan penting dalam perjalanan Marconi setelah kembali ke alam. Sebelumnya, pada 2017, Marconi telah terpantau melahirkan anak pertamanya, Masen. Kini, Marconi kembali terpantau bersama anak keduanya. Setelah lebih dari satu dekade menjalani kehidupan di hutan Jantho, Marconi, orangutan hasil rehabilitasi, kembali terpantau bersama anaknya.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan bahwa keberhasilan satwa liar tidak hanya diukur dari keberhasilan pelepasliaran, tetapi juga kemampuan memastikan satwa dapat bertahan hidup, berkembang biak, dan melanjutkan generasinya di habitat alami.

Kisah Marconi juga mengingatkan bahwa pelepasliaran bukanlah akhir dari proses konservasi. Perjalanan setelah kembali ke alam seperti bagaimana orangutan beradaptasi, bertahan hidup dan berkembang biak,merupakan bagian penting dalam upaya membangun populasi orangutan yang berkelanjutan di habitat alaminya.

Sejalan dengan hal tersebut, Direktur Jenderal KSDAE, Setyawan Pudyatmoko menekankan pentingnya pengelolaan kawasan konservasi secara konsisten melalui perlindungan habitat, pemantauan satwa liar, serta pengendalian berbagai ancaman terhadap kelestarian ekosistemnya.

Menjaga orangutan berarti menjaga rumahnya dan ekosistem di sekitarnya. Perlindungan habitat bukan sekadar tanggung jawab pengelola kawasan, melainkan komitmen bersama yang membutuhkan kepedulian, dukungan, dan tindakan nyata dari seluruh pihak.


Informasi lebih lanjut:
Kepala BKSDA Aceh,
Ujang Wisnu Barata

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri,
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
YouTube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: @kemenhut
X: @kemenhut_ri