Berita

Hotspot Nasional 189 Titik, OMC Terpadu Dilanjutkan dan Diperluas

Selasa, 03 Nov 2026 | Siaran Pers

hotspot-nasional-189-titik-omc-terpadu-dilanjutkan-dan-diperluas

SIARAN PERS
Nomor: SP.664/HKLN/11/2026

Jakarta, 3 November 2026 – Jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional meningkat pada pemantauan Senin, 2 November 2026 pukul 21.00 WIB. Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, terdeteksi 189 hotspot, meningkat 89 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 100 hotspot.

Namun pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, jumlah hotspot justru turun dari 34 menjadi 31 titik. Kalimantan Tengah mencatat 19 hotspot, Jambi 9 titik, dan Kalimantan Selatan 3 titik. Sementara Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau tercatat nihil hotspot high confidence.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa kenaikan hotspot nasional perlu dicermati, namun data satelit harus selalu dibaca bersama kondisi aktual di lapangan. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Karena itu, seluruh indikasi tetap diverifikasi melalui patroli dan groundcheck.

Laporan Posko Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan tanggal 2 November menunjukkan operasi masih berlangsung terutama di Kalimantan Tengah. Di Tanjung Taruna, Pulang Pisau, masih ditemukan banyak kepulan asap pada lahan gambut sehingga pemadaman harus dilanjutkan. Kondisi serupa terjadi di Jabiren yang belum sepenuhnya padam serta sejumlah lokasi di Palangka Raya yang masih menyisakan api maupun asap.

Di sisi lain, beberapa lokasi di Kalimantan Tengah telah menunjukkan perkembangan positif. Api di Pematang Kambat, Seruyan dan Pasir Panjang, Kotawaringin Barat telah berhasil dipadamkan, sementara di Pasir Putih, Kotawaringin Timur, tim masih melakukan pemadaman sekat batas dan pendinginan pada titik yang masih berasap.

Di Jambi, kebakaran di Desa Terusan, Batang Hari telah berhasil dipadamkan. Hujan dengan intensitas tinggi juga terjadi sekitar 30 menit di lokasi pada saat operasi berlangsung dan turut membantu kondisi pemadaman.

Perkembangan penanganan tersebut juga diperkuat melalui Operasi Modifikasi Cuaca atau OMC terpadu. Berdasarkan hasil rapat evaluasi, OMC terpadu yang berlangsung sejak 18 Oktober 2026 menunjukkan hasil positif dan menjadi operasi OMC terpadu dengan skala terbesar yang telah dilaksanakan dalam rangka pengendalian karhutla.

Evaluasi mencatat beberapa indikator perbaikan, antara lain membaiknya jarak pandang dan konsentrasi polutan PM2.5, menurunnya hotspot, mulai meratanya kejadian hujan di sejumlah wilayah—khususnya Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan—serta kembali beroperasinya seluruh bandara yang sebelumnya mengalami kendala akibat rendahnya jarak pandang.

Rekapitulasi Posko juga mencatat pelaksanaan OMC secara intensif pada fase Oktober, termasuk operasi BNPB di Kalimantan Tengah–Kalimantan Selatan, operasi Kementerian Kehutanan di Sumatera Selatan, serta operasi di Kalimantan Tengah dan Papua Selatan. Penyemaian dilakukan menggunakan NaCl maupun dry ice sesuai kondisi atmosfer dan kebutuhan operasi.

Pemerintah memutuskan OMC tetap dilanjutkan oleh BNPB, Kementerian Kehutanan, dan kementerian/lembaga terkait sesuai kebutuhan lapangan. Jumlah armada udara dan alutsista pendukung juga akan disesuaikan dengan perkembangan situasi serta kebutuhan masing-masing wilayah.

Sesuai arahan Kepala BNPB, OMC selanjutnya akan segera diarahkan ke Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua Selatan. Khusus Papua Selatan, status tanggap darurat karhutla masih berlaku hingga 28 November 2026, sehingga penguatan operasi udara menjadi bagian dari respons pemerintah terhadap perkembangan kebakaran di wilayah tersebut.

Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa OMC merupakan bagian dari strategi pengendalian karhutla dan tidak menggantikan operasi darat. Manggala Agni Kemenhut bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api, dunia usaha, relawan, serta seluruh unsur terkait tetap melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, pembasahan, penyisiran bara, mopping up, dan pendinginan sesuai kondisi aktual di lapangan.

Kenaikan hotspot nasional menjadi 189 titik menunjukkan bahwa dinamika karhutla masih dapat berubah dengan cepat. Karena itu, ukuran keberhasilan tidak hanya dilihat dari naik atau turunnya angka hotspot, tetapi dari kondisi di lapangan, yaitu memastikan api dan bara benar-benar padam, kebakaran tidak kembali muncul, kualitas lingkungan membaik, masyarakat terlindungi, serta kawasan hutan dan keanekaragaman hayati tetap terjaga.

Masyarakat dan pelaku usaha diimbau untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Apabila menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor telepon 021-5704618 atau WhatsApp +62 8131-00-35000, agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
YouTube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: @kemenhut
X: @kemenhut_ri