Hotspot Nasional Meningkat, Kemenhut Perkuat Operasi Pengendalian Karhutla
Selasa, 06 Okt 2026 | Siaran Pers

SIARAN PERS
Nomor: SP.586/HKLN/09/2026
Jakarta, 6 Oktober 2026 - Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui operasi darat dan udara menyusul peningkatan jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi pada pemantauan terbaru. Perhatian terutama diarahkan ke Kalimantan Tengah yang mencatat jumlah hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Senin (5/10) pukul 21.15 WIB, secara nasional terdeteksi 1.359 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Jumlah tersebut meningkat 832 titik dibandingkan Minggu (4/10) yang mencatat 527 hotspot.
Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, perkembangan hotspot high confidence tercatat sebagai berikut:
• Kalimantan Tengah: 569 titik, meningkat dari 116 titik;
• Sumatera Selatan: 142 titik, meningkat dari 75 titik;
• Kalimantan Barat: 69 titik, meningkat dari 19 titik;
• Kalimantan Selatan: 28 titik, meningkat dari 15 titik;
• Riau: 4 titik, dari sebelumnya nihil; dan
• Jambi: nihil, tetap nihil.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 812 hotspot high confidence, meningkat dari 225 titik sehari sebelumnya. Kementerian Kehutanan meningkatkan pemantauan dan verifikasi lapangan, terutama di Kalimantan Tengah, serta memperkuat kesiapsiagaan pada wilayah lain yang menunjukkan peningkatan hotspot.
Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Oleh karena itu, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan tindakan penanganan di lapangan.
Operasi Darat dan Udara Terus Diperkuat
Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta para pihak terkait.
Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing. Operasi udara berjalan bersama penguatan operasi di darat melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, serta pendinginan.
Perhatian khusus tetap diberikan pada lahan gambut. Bara api pada gambut dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah tidak lagi terlihat. Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.
Selain perkembangan hotspot, pemerintah terus memantau kondisi udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat. Berdasarkan pantauan terkini, sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, masih terdapat sejumlah wilayah dengan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, termasuk pada beberapa bagian Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Papua. Pada sejumlah lokasi juga terlihat kantong dengan kategori berbahaya.
Kondisi udara bersifat dinamis dan dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer lainnya. Masyarakat di wilayah terdampak diminta terus mengikuti informasi kondisi udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Penyelamatan Satwa Dilakukan Berdasarkan Verifikasi dan Asesmen Lapangan
Karhutla juga dapat berdampak terhadap habitat, sumber pakan, serta jalur pergerakan satwa liar. Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap satwa yang terdampak.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan penanganan atau evakuasi secara mandiri. Jaga jarak, hindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, catat lokasi serta kondisi satwa apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Kementerian Kehutanan kembali mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Peningkatan hotspot menjadi pengingat bahwa kondisi karhutla dapat berubah cepat mengikuti cuaca, kondisi lahan, dan aktivitas di lapangan. Pencegahan serta pelaporan dini dari masyarakat menjadi bagian penting dalam mempercepat respons petugas.
Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin. Kontak pelaporan informasi karhutla di Posko Karhutla Kementerian Kehutanan
• Telepon: 021-5704618
• WhatsApp: +62 8131-00-35000
• Email: posko.karhutla@kehutanan.go.id
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
YouTube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: @kemenhut
X: @kemenhut_ri



