Hotspot Nasional Turun 605 Titik, Kemenhut Pertahankan Operasi Karhutla di Wilayah Prioritas
Minggu, 04 Okt 2026 | Siaran Pers

SIARAN PERS
Nomor: SP.582/HKLN/09/2026
Jakarta, 4 Oktober 2026 - Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional menunjukkan penurunan pada pemantauan terbaru. Meski demikian, Kementerian Kehutanan tetap mempertahankan kesiapsiagaan serta operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada wilayah yang masih menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Sabtu (3/10) pukul 21.10 WIB, secara nasional terdeteksi 666 hotspot high confidenceberdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Jumlah tersebut turun 605 titik dibandingkan Jumat (2/10) yang mencatat 1.271 hotspot.
Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, sebaran hotspot high confidence tercatat sebagai berikut:
• Sumatera Selatan: 254 titik, meningkat dari 83 titik;
• Kalimantan Tengah: 96 titik, turun dari 355 titik;
• Riau: 32 titik, dari sebelumnya nihil;
• Kalimantan Barat: 26 titik, turun dari 246 titik;
• Kalimantan Selatan: 18 titik, turun dari 42 titik; dan
• Jambi: 3 titik, dari sebelumnya nihil.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 429 hotspot high confidence, turun dari 726 titik sehari sebelumnya.
Penurunan nasional menjadi perkembangan yang positif, namun dinamika antarwilayah tetap berbeda. Sumatera Selatan saat ini menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, sementara penurunan cukup signifikan terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat.
Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Oleh karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual serta menentukan respons yang diperlukan di lapangan.
Operasi Darat dan Udara Tetap Disiagakan
Pengendalian karhutla terus dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak terkait. Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.
Perhatian khusus tetap diberikan pada kebakaran di lahan gambut. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat, sehingga pembasahan dan pendinginan harus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.
Kondisi Udara Terus Dipantau
Selain perkembangan hotspot, pemerintah terus memantau kondisi udara berbasis konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari perlindungan kesehatan masyarakat. Secara umum, sebagian besar wilayah Indonesia masih menunjukkan kondisi udara pada kategori baik hingga sedang. Namun, terdapat sejumlah kantong wilayah dengan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, antara lain pada sebagian Sumatera, Kalimantan, Jawa, serta Papua. Pada beberapa lokasi juga masih terlihat kategori berbahaya.
Kondisi udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer lainnya. Masyarakat di wilayah terdampak diminta terus mengikuti informasi kondisi udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kualitas udara memburuk, kurangi aktivitas di luar ruangan dan gunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Penyelamatan Satwa Terdampak Dilakukan Berdasarkan Asesmen Lapangan
Karhutla juga dapat mengganggu habitat, sumber pakan, dan jalur pergerakan satwa liar. Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap satwa yang terdampak. Penanganan dapat meliputi evakuasi dan penyelamatan, pemeriksaan serta perawatan medis, rehabilitasi, translokasi, hingga pelepasliaran kembali apabila kondisi satwa dan habitatnya telah memungkinkan.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri. Jaga jarak, hindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, catat lokasi serta kondisi satwa apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada dan Tidak Membakar Lahan
Kementerian Kehutanan kembali mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Penurunan hotspot secara nasional tidak berarti kewaspadaan dapat dikurangi. Kondisi karhutla sangat dinamis dan dapat berubah cepat mengikuti cuaca, kondisi lahan, serta aktivitas di lapangan.
Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin. Kontak pelaporan informasi karhutla di Posko Karhutla Kementerian Kehutanan
• Telepon: 021-5704618
• WhatsApp: +62 8131-00-35000
• Email: posko.karhutla@kehutanan.go.id
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
YouTube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: @kemenhut
X: @kemenhut_ri



