Berita

Hotspot Nasional Turun 789 Titik, Kemenhut Terus Perkuat Penanganan Karhutla

Jumat, 09 Okt 2026 | Siaran Pers

hotspot-nasional-turun-789-titik-kemenhut-terus-perkuat-penanganan-karhutla

SIARAN PERS
Nomor: SP.593/HKLN/09/2026

Jakarta, 9 Oktober 2026 - Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun pemantauan terbaru menunjukkan penurunan signifikan jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional. Perhatian terutama diarahkan pada Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah yang masih mencatat hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Kamis (8/10) pukul 21.10 WIB, secara nasional terdeteksi 387 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Jumlah tersebut turun 789 titik dibandingkan Rabu (7/10) yang mencatat 1.176 hotspot.

Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, perkembangan hotspot high confidence tercatat sebagai berikut:
• Sumatera Selatan: 130 titik, turun dari 224 titik;
• Kalimantan Tengah: 86 titik, turun dari 225 titik;
• Kalimantan Selatan: 37 titik, meningkat dari 31 titik;
• Kalimantan Barat: 12 titik, turun dari 47 titik;
• Jambi: 3 titik, turun dari 16 titik; dan
• Riau: nihil, tetap nihil.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 268 hotspot high confidence, turun dari 543 titik sehari sebelumnya.

Penurunan tersebut merupakan perkembangan yang perlu terus dijaga. Namun, Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa kewaspadaan tidak dapat dikurangi karena dinamika karhutla dapat berubah dengan cepat dan kondisi antarwilayah tidak selalu sama. Sumatera Selatan saat ini mencatat hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, diikuti Kalimantan Tengah. Sementara Kalimantan Selatan menjadi satu-satunya wilayah prioritas yang menunjukkan peningkatan dibandingkan sehari sebelumnya.

Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan tindakan penanganan yang diperlukan.

Operasi Darat dan Udara Tetap Diperkuat
Pengendalian karhutla terus dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak terkait. Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.

Operasi udara berjalan bersama penanganan di darat melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan. Perhatian khusus tetap diberikan pada kawasan gambut. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat. Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan harus terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.

Pemerintah terus memantau kondisi udara berbasis konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat. Pantauan terkini menunjukkan sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, namun masih terdapat area dengan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, khususnya pada sebagian Sumatera dan Kalimantan.

Pada bagian tertentu Kalimantan juga masih terlihat area dengan kategori berbahaya, sehingga pemantauan kondisi udara dan perkembangan asap terus dilakukan. Kondisi udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer lainnya.

Masyarakat di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi resmi mengenai kondisi udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan maupun penyakit kronis.

Selain melindungi masyarakat dan kawasan hutan, Kementerian Kehutanan terus melakukan penyelamatan dan penanganan satwa liar yang terdampak kebakaran maupun gangguan habitat di Kalimantan. Berdasarkan rekap terkini, sedikitnya 272 individu satwa di Kalimantan telah mendapatkan penanganan, melalui kegiatan rescue atau evakuasi, translokasi, rehabilitasi, hingga penggiringan menuju habitat yang lebih aman sesuai kondisi di lapangan.

Penanganan tersebut tercatat di sejumlah wilayah, yaitu Kalimantan Selatan sebanyak 105 individu, Kalimantan Barat 71 individu, Kalimantan Tengah 48 individu, dan Kalimantan Timur 48 individu. Di Kalimantan Barat, satwa yang mendapatkan penanganan antara lain 46 orangutan, 12 trenggiling, 5 kukang, 4 kucing kuwuk, 2 bekantan, 1 musang, dan 1 lutung kelabu. Penanganan dilakukan sesuai kondisi masing-masing satwa, mulai dari evakuasi, pemeriksaan dan perawatan, hingga pemindahan ke fasilitas rehabilitasi atau habitat yang lebih aman.

Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri. Jaga jarak, hindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, catat lokasi serta kondisi satwa apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.

Penurunan Hotspot Tidak Mengurangi Kewaspadaan
Kementerian Kehutanan kembali mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Penurunan hotspot secara nasional perlu dijaga melalui patroli, deteksi dini, respons cepat, serta partisipasi masyarakat. Situasi dapat kembali berubah apabila kondisi cuaca dan lahan mendukung terjadinya kebakaran.

Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin. Kontak pelaporan informasi karhutla di Posko Karhutla Kementerian Kehutanan
• Telepon: 021-5704618
• WhatsApp: +62 8131-00-35000
• Email: posko.karhutla@kehutanan.go.id

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
YouTube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: @kemenhut
X: @kemenhut_ri