Berita

Hotspot Nasional Turun Tipis, Kemenhut Perkuat Pengendalian di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan

Kamis, 08 Okt 2026 | Siaran Pers

hotspot-nasional-turun-tipis-kemenhut-perkuat-pengendalian-di-kalimantan-tengah-dan-sumatera-selatan

SIARAN PERS
Nomor: SP.591/HKLN/09/2026

Jakarta, 8 Oktober 2026 - Kementerian Kehutanan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan yang pada pemantauan terbaru mencatat konsentrasi titik panas (hotspot) tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Secara nasional, jumlah hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi menunjukkan penurunan tipis dibandingkan sehari sebelumnya.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Rabu (7/10) pukul 21.00 WIB, terdeteksi 1.176 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Jumlah tersebut turun 25 titik dibandingkan Selasa (6/10) yang mencatat 1.201 hotspot.

Namun demikian, dinamika di enam provinsi prioritas menunjukkan perkembangan yang perlu terus diwaspadai. Hotspot high confidence tercatat sebagai berikut:
• Kalimantan Tengah: 225 titik, meningkat dari 182 titik;
• Sumatera Selatan: 224 titik, meningkat dari 71 titik;
• Kalimantan Barat: 47 titik, meningkat dari 34 titik;
• Kalimantan Selatan: 31 titik, meningkat dari 18 titik;
• Jambi: 16 titik, turun dari 21 titik; dan
• Riau: nihil, tetap nihil.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa meskipun secara nasional terjadi penurunan tipis, konsentrasi hotspot pada wilayah tertentu masih membutuhkan perhatian dan respons lapangan yang kuat. Pemantauan, patroli, dan groundcheck terus diperkuat terutama di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.

Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, sehingga tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui pemeriksaan langsung untuk mengetahui kondisi sebenarnya dan menentukan tindakan penanganan di lapangan.

Operasi Darat dan Udara Terus Diperkuat
Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta para pihak terkait. Pemerintah tetap menyiagakan 61 unit armada udara, yang terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.

Operasi udara berjalan bersama penguatan penanganan di darat melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, serta pendinginan. Perhatian khusus tetap diberikan pada kawasan gambut. Bara api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat. Karena itu, pembasahan dan pendinginan dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.

Kondisi Udara Tetap Dipantau
Pemerintah juga terus memantau kondisi udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat. Pantauan terkini menunjukkan sebagian wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah wilayah masih menunjukkan kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat, terutama pada beberapa bagian Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua.

Pada sebagian wilayah Kalimantan juga masih terlihat kantong dengan kategori berbahaya, sehingga perkembangan kualitas udara dan pergerakan asap terus menjadi perhatian. Kondisi udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer lainnya.

Masyarakat di wilayah terdampak diminta terus mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kondisi udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.

Penanganan Satwa Terdampak Dilakukan Sesuai Asesmen Lapangan
Karhutla juga dapat mengganggu habitat, sumber pakan, dan jalur pergerakan satwa liar. Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap satwa yang terdampak. Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri.

Jaga jarak, hindari tindakan yang dapat membuat satwa stres atau agresif, catat lokasi serta kondisi satwa apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.

Kementerian Kehutanan kembali mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Perkembangan hotspot dari hari ke hari menunjukkan bahwa situasi karhutla bersifat dinamis. Penurunan secara nasional dapat terjadi bersamaan dengan peningkatan pada wilayah tertentu. Karena itu, deteksi dini, verifikasi lapangan, dan respons cepat terus menjadi bagian penting dalam pengendalian karhutla.

Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin. Kontak pelaporan informasi karhutla di Posko Karhutla Kementerian Kehutanan
• Telepon: 021-5704618
• WhatsApp: +62 8131-00-35000
• Email: posko.karhutla@kehutanan.go.id

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
YouTube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: @kemenhut
X: @kemenhut_ri