Kemah Konservasi HKAN 2026: Padukan Kepemimpinan, Edukasi, dan Aksi Nyata
Kamis, 20 Agt 2026 | Berita

Jakarta, 20 Agustus 2026 – Kemah Konservasi Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2026 di Bumi Perkemahan Ragunan, Jakarta Selatana dihadiri oleh kawula muda. Lebih dari 100 anggota Pramuka Saka Wanabakti pelajar SMA/sederajat, dan generasi muda Jabodetabek bertemu dalam satu ruang belajar konservasi yang menggabungkan pengalaman lapangan, kepemimpinan, kreativitas, dan kolaborasi.
Tema “Kolaborasi Generasi Muda untuk Masa Depan Konservasi Indonesia” membawa pesan sederhana: masa depan konservasi tidak hanya berada di tangan para ahli dan pemerintah. Generasi muda juga memiliki posisi penting dengan kekuatan yang khas kreativitas, jejaring, kemampuan memanfaatkan teknologi, serta keberanian menyuarakan gagasan melalui ruang digital.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), Satyawan Pudyatmoko, menekankan posisi strategis tersebut. “Di tengah tantangan konservasi yang semakin kompleks, kemampuan anak muda beradaptasi dengan teknologi dan membangun jejaring dapat menjadi kekuatan untuk memperluas gerakan pelestarian alam”.
Pesan yang sama disampaikan Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Saka Wanabakti Nasional, Luckmi Purwandari. Menurutnya, pendekatan kepada generasi muda perlu bergerak lebih jauh dari sekadar sosialisasi.
“Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penerima informasi tentang konservasi. Mereka perlu mendapatkan ruang untuk belajar, mencoba, berkolaborasi, dan kemudian mengambil peran sebagai bagian dari solusi,” ujar Luckmi. .
Bagi Kementerian Kehutanan, ruang seperti ini penting untuk menumbuhkan Generasi Pelestari Hutan atau Genries. Mereka bukan sekadar anak muda yang memahami isu lingkungan, tetapi generasi yang memiliki kepedulian, pengetahuan, keterampilan, jejaring, dan keberanian mengubah kepedulian tersebut menjadi aksi.
Saka Wanabakti menjadi salah satu ruang untuk membangun kapasitas tersebut. Melalui empat krida yaitu Tata Wana, Guna Wana, Bina Wana, dan Reksa Wana, generasi muda dapat mengenal kehutanan melalui keterampilan dan pengalaman nyata. Konservasi dengan demikian tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi menjadi bagian dari proses pembentukan karakter dan kepemimpinan generasi muda.
Cara anak muda menyuarakan konservasi pun terus berubah. Video pendek, fotografi, poster digital, dan media sosial kini dapat menjadi instrumen kampanye yang menjangkau jauh lebih banyak orang. Melalui Conservation Creator Challenge, kreativitas tersebut diarahkan untuk mengubah pesan konservasi menjadi cerita yang dekat dengan bahasa generasi muda.
Kemah Konservasi HKAN 2026 juga membawa harapan lahirnya Youth Conservation Ambassador HKAN 2026 anak-anak muda yang tidak berhenti menjadi peserta kegiatan, tetapi melanjutkan pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh menjadi gerakan di lingkungan masing-masing.
Karena tantangan konservasi Indonesia tidak akan selesai dalam satu kemah, satu kampanye, atau satu peringatan HKAN. Yang dibutuhkan adalah semakin banyak anak muda yang merasa bahwa menjaga alam adalah bagian dari perannya.
Dari Ragunan, pesannya jelas: konservasi bukan hanya tentang alam yang harus dijaga, tetapi juga tentang generasi yang harus disiapkan untuk menjaganya.
Informasi lebih lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Sekretaris Pimpinan Saka Wanabakti Nasional
Luckmi Purwandari
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



