Kematian Gajah Yuna, BKSDA Aceh Perkuat Deteksi Dini Serangan Virus EEHV pada Gajah Anakan
Rabu, 12 Agt 2026 | Siaran Pers

SIARAN PERS
Nomor: SP. 399/HKLN/08/2026
Banda Aceh, 12 Agustus 2026. Kabar duka mendalam menyelimuti Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh. Yuna, gajah anakan betina berusia di bawah tiga tahun dari induk Gajah Suci, dinyatakan menghembuskan nafas terakhir pada Selasa (11/8/2026) malam. Berdasarkan diagnosa awal medis, peristiwa berpulangnya Yuna diduga kuat akibat serangan Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV), jenis virus mematikan yang sangat rentan menyerang anak gajah.
Kondisi kesehatan Yuna memburuk dalam waktu yang sangat cepat. Pada Selasa pagi hingga siang hari, Yuna masih terpantau aktif beraktivitas seperti biasa. Kondisi tidak biasa baru terlihat pada pukul 16.00 WIB ketika mahout (pawang gajah) mendapati Yuna dalam keadaan lemas, mata bengkak dan merah, wajah membengkak, serta lidah pucat membiru.
Tim dokter hewan BKSDA Aceh dibantu mahout segera memberikan tindakan medis darurat berupa pemberian cairan infus dan multivitamin. Namun, kondisi kesehatan Yuna terus menurun secara drastis hingga terjatuh lemas dan nyawanya tidak tertolong pada pukul 20.48 WIB. Tim medis kemudian langsung melakukan prosedur nekropsi hingga proses pemakaman selesai pada pukul 00.30 WIB dini hari.
Sebelum kejadian, kondisi kesehatan Yuna berada dalam pemantauan rutin harian dan evaluasi berkala per tiga bulan. Hasil pemeriksaan medis terakhir pada Juni 2026 menunjukkan Yuna dalam keadaan sehat dengan nilai Body Condition Index Score (BCIS) 5,5 (skala ideal gajah jinak 5–7). Dalam dua hari sebelum peristiwa duka ini pun tidak ditemukan indikasi gejala sakit maupun penurunan kondisi fisik.
Kepala BKSDA Aceh, Ujang Wisnu Barata, menjelaskan bahwa gajah-gajah binaan BKSDA Aceh di PLG Saree, CRU Peusangan, maupun CRU Trumon selalu mendapatkan pemeriksaan rutin harian dan general check-up berkala.
“Kondisi Yuna drop sangat cepat, yang berdasarkan diagnosa awal dipicu oleh serangan virus mematikan bagi anak gajah. Secara makroskopis, gejalanya terlihat dari pembengkakan wajah, mata merah, dan mukosa lidah kebiruan, serta perubahan mikroskopis berupa pendarahan (hemoragik) pada organ pencernaan dalam. Untuk mempertegas penyebab pasti berpulangnya Yuna, kami telah mengambil sampel organ guna pengujian laboratorium lebih lanjut,” terangnya.
Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV) merupakan virus herpes khusus yang menginfeksi gajah, terutama anak gajah berumur di bawah 14 tahun. Virus ini merusak lapisan dalam pembuluh darah (endothelium), menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam yang memicu syok fatal serta kematian mendadak dalam kurun waktu 24–48 jam, dengan tingkat kematian mencapai 80%. Penularan EEHV dapat terjadi melalui sekresi belalai, air liur, maupun feses. Kasus serupa pernah menginfeksi anak gajah Intan (4 tahun 3 bulan) di CRU Trumon, Aceh Selatan, pada tahun 2021 lalu.
Sebagai langkah antisipasi cepat, BKSDA Aceh memperketat pemantauan dan deteksi dini terhadap gajah-gajah anakan lainnya.
“Kami segera melakukan uji medis dan deteksi dini terhadap gajah anakan lain yang berusia di bawah 14 tahun, khususnya gajah Gerry, Yuyun, dan Dilan, guna mengantisipasi serta meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut,” pungkas Ujang.
Informasi lebih lanjut:
Kepala BKSDA Aceh,
Ujang Wisnu Barata (0852-0780-4307)
Penanggung Jawab Berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



