Kemenhut Ajak Generasi Muda Wujudkan Semangat Sumpah Pemuda melalui Aksi Nyata Jaga Hutan
Senin, 02 Nov 2026 | Berita

Jakarta, 2 November 2026 – Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) mengajak generasi muda memaknai semangat Sumpah Pemuda melalui aksi nyata pelestarian hutan, mulai dari pemanfaatan ruang digital secara positif, penguatan kolaborasi lintas komunitas, hingga keterlibatan aktif dalam menjaga dan melaporkan ancaman terhadap hutan dan satwa liar. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan Youth Talk Take Action (YTTA) ke-7 bertajuk “Sumpah Pemuda Merawat Hutan Nusantara: Merawat Semangat 1928 lewat Aksi Nyata Generasi Pelestari Hutan” yang digelar secara daring.
Plt. Kepala BP2SDM, Dyah Murtiningsih, mengajak generasi muda memaknai perjuangan di era digital. Menurutnya, tiga ikrar 1928 dapat dimaknai kembali dalam konteks kekinian: satu tanah air berarti menjaga hutan sebagai ruang hidup bersama, satu bangsa berarti bersatu lintas daerah, sekolah, kampus, dan komunitas, serta satu bahasa berarti menjaga ruang digital tetap jujur, santun, dan berbasis fakta.
"Pemuda 1928 berjuang dengan pena, dengan rapat-rapat kongres, dan dengan bahasa yang mempersatukan. Pemuda hari ini berjuang dengan gawai di genggaman, dengan kamera, dengan data, dengan jaringan internet. Medannya berbeda, tetapi semangatnya sama." tegas Dyah.
Abdullah Syahira Antoni, alumni Forest Youthverse 2025 sekaligus pendidik dan mentor, membagikan pengalamannya. Berlatar belakang pendidikan bahasa Inggris, ia mengaku tidak memulai sebagai ahli kehutanan. Jejaring yang terbangun setelah mengikuti Forest Youthverse membuka kesempatan baginya menjadi fasilitator undangan pada Young Forest Champions Indonesia Workshop, kerja sama FAO Indonesia dan Kementerian Kehutanan.
"Koneksi membuka pintu. Kontribusi adalah apa yang kita lakukan setelah masuk. Dalam semangat Sumpah Pemuda, kita tidak harus berlatar belakang sama untuk bergerak bersama. Ada peran teknis, penelitian, komunikasi, dan pendidikan yang bisa saling melengkapi." Ungkap Antoni.
Dari sisi lapangan, Johan Prasetyo, Polisi Kehutanan Teladan Juara I Wana Lestari 2026 dari Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, berbagi kisah pengabdian sebagai penjaga hutan. Ia menyoroti keterbatasan personel di lapangan, di mana satu polisi kehutanan harus mengawasi area kawasan hutan yang sangat luas, sehingga peran masyarakat dan generasi muda sebagai mata dan telinga tambahan untuk pelaporan dini sangat dibutuhkan. Ia mengajak anak muda aktif melaporkan indikasi pembakaran hutan maupun perdagangan satwa liar melalui kanal resmi.
"Menjaga hutan bukan hanya tugas polisi kehutanan di rimba, melainkan panggilan nurani setiap generasi muda yang ingin memiliki masa depan di bumi ini. Jadilah generasi muda yang tanggap dan responsif: jangan diam ketika melihat tanda-tanda kejahatan hutan, segera laporkan melalui kanal resmi." ujar Johan.
Kegiatan ini menjadi puncak rangkaian kampanye "Genries Bergerak, Hutan Terjaga!". YTTA-7 menegaskan satu pesan utama: generasi muda adalah ujung tombak perubahan dalam menjaga hutan Indonesia. Semangat persatuan yang diikrarkan para pemuda pada 1928 dimaknai ulang sebagai gerakan nyata melestarikan hutan sebagai bagian terpenting dari tanah air.
Pada akhir acara, Pusgenri memberikan penghargaan kepada Genries atas partisipasi dalam program Genries Bersuara, Genries Beraksi, dan Genries Menginspirasi. Pusgenri berharap semangat Sumpah Pemuda tidak berhenti pada peringatan seremonial, tetapi menjadi komitmen aksi nyata yang konsisten, mulai dari lingkungan terdekat, sehingga generasi muda benar-benar menjadi ujung tombak perubahan bagi kelestarian hutan Nusantara.
Informasi lebih lanjut:
Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Badan P2SDM
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



