Kemenhut Dorong 35 Genries Sulawesi Tenggara Lahirkan Inovasi untuk Pelestarian Hutan
Rabu, 28 Okt 2026 | Berita

Kendari, 28 Oktober 2026, Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) mengajak anak muda Sulawesi Tenggara menjadi menjadi bagian penting dalam upaya menjaga kelestarian hutan dan keanekaragaman hayati melalui kegiatan kegiatan Forest Youthverse Summit (FYV Summit) Wilayah Sulawesi Tenggara. Diikuti oleh 35 Genries (Generasi Pelestari Hutan) Sulawesi Tenggara dengan mengusung tema “Guardians of Wallacea: Cipta Inovasi, Wujudkan Aksi, Jaga Keanekaragaman Hayati.”
Melalui kegiatan ini, generasi muda didorong untuk tidak hanya mengenali kekayaan alam di sekitarnya, tetapi juga merumuskan gagasan inovatif dan membangun kolaborasi untuk menjawab berbagai tantangan kehutanan dan keanekaragaman hayati. Forum ini menjadi ruang bagi Genries untuk menyampaikan ide, bertukar perspektif, serta menghubungkan potensi generasi muda dengan dukungan pemerintah, akademisi, komunitas, dan para pemangku kepentingan lainnya.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Luckmi Purwandari, dalam arahan dan pembukaan kegiatan menekankan bahwa Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan keanekaragaman hayati yang menjadi bagian penting dari kawasan Wallacea. Keberadaan satwa endemik seperti anoa dan maleo, serta bentang alam mulai dari hutan dataran rendah dan pegunungan hingga ekosistem pesisir dan laut, merupakan warisan yang harus dijaga bersama.
“Di balik setiap tantangan kehutanan, ada ruang bagi generasi muda untuk berkarya. Inovasi tidak harus rumit. Gagasan sederhana yang menjawab persoalan di sekitar kita dapat menjadi awal dari solusi yang lebih besar. Yang terpenting, gagasan tersebut tidak berhenti di forum diskusi, tetapi dikembangkan menjadi aksi nyata yang berkelanjutan,” pesan Luckmi.
Ia juga mengajak Genries Sulawesi Tenggara untuk menjalankan tiga langkah utama, yaitu mengenali kekayaan alam, mencegah ancaman dan melindungi keanekaragaman hayati, serta menggerakkan kolaborasi lintas pihak. Gagasan yang muncul melalui Innovation Board dalam FYV Summit diharapkan menjadi titik awal aksi yang dapat terus dikembangkan setelah kegiatan berakhir.
Salah satu gagasan inovasi yang disampaikan adalah floating garden atau kebun terapung. Ardi Wijaya, salah satu Genries Sulawesi Tenggara, mengangkat ide tersebut sebagai alternatif pemanfaatan ruang di wilayah perairan untuk kegiatan budidaya tanaman. Gagasan ini mencerminkan upaya generasi muda untuk melihat potensi di sekitarnya dan merumuskan solusi yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan serta karakteristik wilayah.
“Menurut saya, floating garden bisa menjadi salah satu ide inovasi yang menarik untuk dikembangkan. Kami ingin menunjukkan bahwa generasi muda juga bisa menghadirkan gagasan yang berangkat dari potensi lokal dan kebutuhan masyarakat. Harapannya, ide ini tidak berhenti sebagai konsep, tetapi bisa dikaji, dikembangkan, dan diwujudkan melalui kolaborasi dengan pihak-pihak yang memiliki keahlian dan sumber daya,” ujar Ardi Wijaya.
Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara turut menekankan pentingnya kolaborasi dalam mendukung gerakan Genries. Menurutnya, upaya pelestarian hutan dan keanekaragaman hayati membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk generasi muda yang memiliki kreativitas, energi, dan perspektif baru dalam menjawab tantangan di lapangan.
“Genries sulawesi tenggara dapat menjadi komunitas yang baik untuk membangun kepedulian dan menggerakkan aksi generasi muda dalam pelestarian hutan di Bumi Wallacea. Kami menyambut baik ide dan inovasi yang lahir dari anak-anak muda ini. Kolaborasi perlu terus diperkuat agar gagasan mereka dapat dikembangkan menjadi gerakan nyata. Pemerintah siap mendukung upaya tersebut sesuai dengan peran dan kewenangan masing-masing,” ungkap Ardiansyah.
Kehadiran FYV Summit di Sulawesi Tenggara juga menandai langkah awal penguatan jejaring Genries di wilayah ini. Sebagai angkatan pertama, 35 Genries yang terlibat diharapkan menjadi perintis gerakan pelestarian hutan yang mampu menginspirasi lebih banyak anak muda untuk mengambil peran.
Melalui kolaborasi dengan BPKH Wilayah XXII Kendari dan dukungan para pemangku kepentingan, FYV Summit diharapkan menjadi penghubung antara ide generasi muda dengan peluang pendampingan, pengembangan inovasi, dan pelaksanaan aksi nyata. Ke depan, gagasan yang dihasilkan dapat terus disempurnakan melalui proses belajar, penguatan kapasitas, serta kolaborasi dengan pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat.
Forest Youthverse Summit menegaskan bahwa menjaga hutan dan keanekaragaman hayati bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan gerakan bersama yang membutuhkan partisipasi aktif generasi muda. Dari Sulawesi Tenggara, Genries diharapkan mampu membuktikan bahwa kreativitas dan inovasi anak muda dapat menjadi kekuatan penting dalam menjaga kekayaan Wallacea untuk generasi sekarang dan mendatang.
Informasi Lebih Lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan
Luckmi Purwandari
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



