Kemenhut Dorong Ekonomi Desa dan Pelestarian Hutan melalui Budidaya Lebah Trigona dan Digitalisasi Pemasaran di Sumatera Utara
Sabtu, 24 Okt 2026 | Berita

Kementerian Kehutanan melalui Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri) dibawah naungan Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Kewirausahaan Kreatif Kehutanan dengan topik "Budidaya dan Digitalisasi Pemasaran Produk Lebah Trigona (Trigona spp.) Generasi Pelestari Hutan".
Kegiatan ini berlangsung selama tiga hari, sejak 21 hingga 23 Oktober 2026, di Wana Wiyatadyakarya KTH Melati dan Balai Desa Sigumuru, Padangsidimpuan, Sumatera Utara.
Kegiatan ini diikuti oleh 65 generasi muda terpilih berusia 18 hingga 35 tahun yang berasal dari Kabupaten Tapanuli Selatan, Kabupaten Mandailing Natal, dan Kota Padangsidimpuan. Mereka digadang-gadang sebagai motor penggerak perubahan dan agen konservasi di sektor kehutanan melalui pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan (Pusgenri), yang diwakili oleh Kepala Bidang Kewirausahaan Kreatif Kehutanan, Marwoto, dalam sambutan pembukaannya, menegaskan bahwa hutan adalah lumbung kesejahteraan yang menanti kreativitas generasi muda.
"Hutan bukan sekadar hamparan pohon yang harus kita jaga agar tetap hijau dan lestari. Lebih dari itu, hutan adalah sumber kehidupan, penyedia jasa lingkungan, sekaligus lumbung kesejahteraan. Salah satu komoditas unggulan HHBK yang bernilai ekonomis tinggi dan ramah lingkungan adalah lebah madu tanpa sengat atau lebah Trigona," ujar Marwoto dalam sambutan pembukaannya, Rabu (21/10).
Wilayah Tapanuli Selatan, Mandailing Natal, dan Padangsidimpuan memiliki vegetasi rimbun dan iklim yang sangat ideal sebagai habitat lebah Trigona. Budidaya lebah Trigona dinilai sangat ramah lingkungan karena tidak membutuhkan lahan luas dan tidak merusak pohon. Produk turunan seperti madu klanceng, propolis, hingga bee pollen memiliki nilai ekonomi tinggi di pasar.
"Menekuni budidaya lebah Trigona berarti kita sedang menanam investasi kelestarian lingkungan, sekaligus menciptakan lapangan kerja hijau," tambahnya.
Namun, penguasaan teknik budidaya saja tidak cukup. Menyikapi dinamika pasar di era digital, Bimtek ini secara khusus mengintegrasikan materi Digitalisasi Pemasaran. Para peserta dibekali kemampuan storytelling, pembangunan merek (branding), serta strategi menembus pasar e-commerce dan media sosial oleh para praktisi seperti Founder Kampung Digital dan Guru Optimasi Pemasaran Online. Produk lokal diharapkan mampu dikemas dengan estetika tinggi dan menjangkau pasar global.
Selama 24 Jam Pelajaran (JP), peserta tidak hanya menerima materi teori, tetapi juga praktik langsung di lapangan bersama para penyuluh dan praktisi budidaya dari Nabonggal Bee Farm dan Fitorajo Bee Farm.
Sebagai tahapan paling krusial, di akhir pelatihan peserta diwajibkan menyusun Rencana Aksi (blueprint) usaha yang siap dieksekusi sekembalinya ke daerah asal. Hal ini bertujuan untuk memastikan terciptanya sentra-sentra wirausaha kehutanan baru yang tangguh di tingkat lokal.
Informasi Lebih Lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan, Badan P2SDM
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



