Berita

Kemenhut Optimalkan Pemanfaatan Kayu Hanyutan Pascabencana dengan Dukungan Alat Berat dan Riset UGM

Rabu, 07 Jan 2026 | Berita

kemenhut-optimalkan-pemanfaatan-kayu-hanyutan-pascabencana-dengan-dukungan-alat-berat-dan-riset-ugm

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) terus mengoptimalkan pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana hidrometeorologi di Aceh Utara dan Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 863 Tahun 2025 tentang Pemanfaatan Kayu Hanyutan Akibat Bencana Banjir Sebagai Sumber Daya Material untuk Rehabilitasi dan Pemulihan Pascabencana di Wilayah Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, pemilahan dan pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan dengan dukungan 35 unit alat berat. Total alat berat yang bekerja terdiri dari 30 unit alat berat Kemenhut (14 unit excavator capit, 11 unit excavator bucket, dan 5 unit dozer), 4 unit alat berat TNI (1 unit bulldozer, 1 unit excavator bucket, dan 2 unit excavator capit), serta 1 unit excavator dari Kementerian PUPR. Seluruh alat berat tersebut difokuskan untuk pembersihan dan pemilahan kayu hanyutan di halaman rumah warga, sekaligus mulai memilah kayu yang berada di dalam aliran air agar dapat dimanfaatkan.

Hingga 6 Januari 2026, kayu hanyutan yang telah diukur dan dinyatakan layak dimanfaatkan di Aceh Utara mencapai 454 batang dengan volume 730,95 meter kubik.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan menyampaikan bahwa pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan secara tertib dan terkontrol untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak.

“Dengan dukungan alat berat, pemilahan kayu hanyutan bisa dilakukan lebih cepat dan aman. Kayu yang layak kami manfaatkan untuk kebutuhan darurat warga,” ujar Subhan.

Pemanfaatan kayu hanyutan tersebut diarahkan, antara lain, untuk mendukung pembangunan hunian sementara (huntara) yang dikembangkan berdasarkan hasil kajian dan riset Universitas Gadjah Mada (UGM). Hingga saat ini, pemanfaatan kayu oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan tercatat mencapai 28,86 meter kubik, dengan progres dua unit huntara dalam pembangunan dan satu unit telah selesai dibangun.

Sementara itu di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pemanfaatan kayu hanyutan juga dilakukan secara masif dengan dukungan 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck. Kayu yang telah dipilah dan diolah dimanfaatkan untuk kebutuhan pengungsian dan penanganan darurat.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani menegaskan bahwa seluruh pemanfaatan kayu hanyutan dilakukan secara terkontrol dan sesuai ketentuan.

“Sebanyak 430 keping kayu olahan dengan volume 6,95 meter kubik dimanfaatkan sebagai alas lantai 267 unit tenda darurat. Penatausahaan dan pengawasan terus kami lakukan agar pemanfaatannya tepat sasaran,” jelas Novita.

Kemenhut menegaskan pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana dilakukan dengan prinsip legalitas, transparansi, dan kebermanfaatan sosial, sekaligus mencegah pemanfaatan tidak terkendali di lapangan.


Jakarta, 7 Januari 2026

Informasi lebih lanjut:

  1. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL),
    Subhan
  2. Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara,
    Novita Kusuma Wardani

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter: @kemenhut_ri