Kemenhut Perkuat Kepemimpinan Teknis Konservasi Hadapi Era TUNA
Kamis, 13 Agt 2026 | Berita

Bogor, 13 Agustus 2026 – Kementerian Kehutanan melalui terus memperkuat kapasitas sumber daya manusia bidang konservasi sebagai bagian dari upaya menghadapi tantangan pengelolaan keanekaragaman hayati yang semakin kompleks. Hal tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan School of Environmental Conservation and Environment Services Management (SECESM) Tahun 2026 yang resmi ditutup.
Pelatihan SECESM 2026 diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) SDM, Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BP2SDM) Kementerian Kehutanan, bekerja sama dengan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia Program dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE).
Kepala BP2SDM Kementerian Kehutanan, Indra Eksploitasia, mengatakan tantangan pengelolaan konservasi saat ini semakin kompleks.
Indonesia menghadapi era TUNA (Turbulence, Uncertainty, Novelty, Ambiguity) yang ditandai dengan perubahan iklim ekstrem, kebakaran hutan dan lahan, ancaman kepunahan spesies, dinamika ekonomi hijau, hingga munculnya berbagai isu baru seperti nilai ekonomi karbon, imbal jasa lingkungan, dan cyber-wildlife crime.
"Untuk menjawab tantangan era TUNA tersebut, Indonesia kini memiliki landasan hukum yang semakin kuat melalui Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya," ujar Indra.
Kepala BP2SDM turut mengapresiasi kepada seluruh peserta yang telah menunjukkan komitmen dan konsistensi mengikuti seluruh rangkaian pelatihan.
"Pelatihan ini diharapkan tidak berhenti pada bertambahnya pengetahuan, tetapi mampu melahirkan rencana aksi dan kontribusi nyata bagi penguatan tata kelola konservasi. Semoga kerja keras kita membawa hasil yang maksimal dan memberikan kontribusi nyata bagi kelestarian hutan Indonesia" tutup Indra.
Program SECESM 2026 dirancang tidak sekadar sebagai pelatihan teknis, tetapi sebagai pelatihan kepemimpinan teknis konservasi yang membekali peserta dengan pengetahuan, pengalaman, kemampuan analisis, serta kapasitas untuk menyusun langkah nyata dalam pengelolaan konservasi.
Rangkaian pembelajaran telah dilaksanakan sejak April 2026 melalui beberapa tahapan, mulai dari Massive Open Online Course (MOOC), pembelajaran klasikal, praktik lapangan, hingga seminar rencana aksi.
Kurikulum pelatihan mencakup delapan materi utama, yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan; pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya; pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya; kemitraan dan
pengembangan peran serta masyarakat dalam konservasi; perlindungan kawasan dan penegakan hukum; telaah kasus konservasi SDAHE; praktik lapangan; serta penyusunan rencana aksi.
Dengan berakhirnya SECESM 2026, para peserta diharapkan mampu menerapkan
pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh untuk memperkuat pelaksanaan konservasi di unit kerja masing-masing, sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan pengelolaan hutan dan keanekaragaman hayati Indonesia yang semakin efektif dan berkelanjutan.
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



