Menhut-Kepala BNPB Pantau OMC hingga Satgas Darat Karhutla Kalteng
Rabu, 23 Sep 2026 | Siaran Pers

SIARAN PERS
Nomor: SP.548/HKLN/09/2026
Jakarta, 23 September 2026 - Kementerian Kehutanan bersama BNPB dan tim gabungan terus memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di Kalimantan Tengah. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengawal langsung operasi di lapangan, mulai dari monitoring Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), evaluasi Satgas Darat, hingga peninjauan Posko Karhutla.
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Selasa (22/9) pukul 21.20 WIB, secara nasional terdeteksi 932 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence, meningkat 244 titik dibandingkan 688 titik pada Senin (21/9). Pada enam provinsi prioritas, hotspot high confidence tercatat:
• Kalimantan Tengah: 643 titik, meningkat dari 228 titik;
• Kalimantan Selatan: 68 titik, turun dari 71 titik;
• Kalimantan Barat: 50 titik, meningkat dari 36 titik;
• Sumatera Selatan: 17 titik, turun dari 23 titik;
• Jambi: 0 titik, turun dari 2 titik; dan
• Riau: 0 titik, tetap nihil.
Kalimantan Tengah masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot high confidence tertinggi di antara enam provinsi prioritas. Sementara itu, perkembangan positif terlihat di Sumatera Selatan, serta Jambi dan Riau yang tidak mencatat hotspot high confidence pada pemantauan terakhir.
Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan satu kejadian kebakaran maupun luas area yang terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck dan kondisi aktual di lapangan.
Menhut-Kepala BNPB Pantau OMC dan Satgas Darat
Pengawalan langsung penanganan karhutla di Kalimantan Tengah dilanjutkan pada Selasa (22/9) oleh Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto. Rangkaian kegiatan difokuskan pada evaluasi dua pilar utama pengendalian karhutla, yakni operasi udara dan operasi pemadaman darat.
Pada pagi hari, Menhut dan Kepala BNPB melakukan monitoring Operasi Modifikasi Cuaca di Posko OMC Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. Monitoring dilakukan untuk melihat perkembangan kondisi meteorologis, peluang pemanfaatan potensi awan, kesiapan armada, serta pelaksanaan OMC dalam mendukung pembasahan wilayah rawan karhutla.
OMC menjadi salah satu instrumen penting dalam penanganan karhutla, khususnya untuk meningkatkan pembasahan pada ekosistem gambut. Namun, pelaksanaannya sangat bergantung pada ketersediaan awan potensial dan kondisi penerbangan. BNPB sebelumnya menyatakan operasi OMC di Kalimantan Tengah terus dilakukan dengan memanfaatkan setiap peluang awan yang terdeteksi BMKG.
Dari Posko OMC, Menhut dan Kepala BNPB melanjutkan monitoring ke Pusdalops BPBD Provinsi Kalimantan Tengah untuk mengevaluasi perkembangan Satgas Darat. Evaluasi meliputi perkembangan titik api, kondisi pemadaman, distribusi personel dan peralatan, serta kendala yang dihadapi petugas di lapangan. Penguatan operasi darat menjadi sangat penting ketika asap tebal dan jarak pandang rendah membatasi pergerakan helikopter water bombing.
Pada sore hari, Menhut dan Kepala BNPB melanjutkan kegiatan ke Posko Karhutla Kabupaten Kapuas untuk meninjau langsung Satgas Karhutla dan melakukan koordinasi bersama pemerintah daerah serta jajaran terkait. Di Kapuas, Kepala BNPB bersama Menhut juga melakukan koordinasi dengan Bupati Kapuas, Kapolda Kalimantan Tengah, Pangdam XII/Tanjungpura, dan unsur terkait untuk memastikan operasi pemadaman darat berjalan optimal.
Rangkaian kegiatan tersebut merupakan kelanjutan pengawalan langsung Menhut dan Kepala BNPB yang sejak Senin (21/9) berada di Kalimantan Tengah untuk memperpendek rantai koordinasi serta memastikan operasi darat dan udara dapat disesuaikan dengan perkembangan situasi.
61 Armada Udara Mendukung Operasi
Pemerintah saat ini mengerahkan 61 unit armada udara untuk mendukung penanganan karhutla, terdiri atas: 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC); dan 44 unit untuk water bombing. Pengoperasian armada disesuaikan dengan lokasi kebakaran, potensi awan, arah angin, kondisi asap, jarak pandang, dan keselamatan penerbangan.
Di darat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak terus melakukan patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, serta pendinginan. Pada kebakaran gambut, pendinginan tetap dilakukan meskipun api tidak lagi terlihat di permukaan karena bara dapat bertahan di bawah tanah dan kembali menyala ketika kondisi mengering.
Pantauan Kondisi Udara Masih Perlu Diwaspadai
Pantauan PM2,5 menunjukkan kondisi udara di Indonesia masih bervariasi. Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang, namun sejumlah area di Sumatera dan terutama Kalimantan masih menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, bahkan pada beberapa lokasi berada pada kategori berbahaya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan karhutla tidak cukup dinilai hanya dari jumlah hotspot. Pemerintah juga terus memantau kondisi api di lapangan, PM2,5, sebaran asap, kelembapan, arah angin, peluang hujan, dan jarak pandang.
BMKG juga memprakirakan terdapat peluang pertumbuhan awan Cumulonimbus pada periode 23-29 September di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan, termasuk Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan. Informasi tersebut terus digunakan sebagai salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan operasi udara dan OMC.
Kewaspadaan Masyarakat Tetap Diperlukan
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk terus mengikuti informasi kondisi udara dan arahan pemerintah daerah. Apabila kondisi udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Masyarakat dan pelaku usaha juga kembali diingatkan untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Setiap pengelola areal wajib memastikan kesiapan personel, sarana-prasarana, deteksi dini, serta sistem pengendalian kebakaran berfungsi dengan baik.
Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang terdampak, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin.
Laporan karhutla dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan pada nomor 021-5704618, WhatsApp +62 8131-00-35000, atau email posko.karhutla@kehutanan.go.id.
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
YouTube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: @kemenhut
X: @kemenhut_ri



