Peluncuran SOIFO 2026 di FAO Tegaskan Peran Hutan bagi Ketahanan Iklim dan Kesejahteraan Masyarakat
Rabu, 30 Sep 2026 | Siaran Pers

SIARAN PERS
Nomor: SP. 571/HKLN/09/2026
Roma, Italia, 30 September 2026. Kementerian Kehutanan Republik Indonesia meluncurkan The State of Indonesia’s Forests 2026 (SOIFO 2026) di Sheikh Zayed Centre, Markas Besar FAO, Roma. Publikasi ini menegaskan bahwa pengelolaan hutan berkelanjutan merupakan bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan, ketahanan iklim, dan kesejahteraan masyarakat.
Peluncuran berlangsung dalam kegiatan “Forests for resilience and prosperity: Indonesia’s journey and the launch of the State of Indonesia’s Forests 2026”, sebagai bagian dari World Forest Week ke-10 yang diselenggarakan bersamaan dengan Sidang ke-28 Committee on Forestry (COFO 28). Kegiatan diselenggarakan bersama oleh Kementerian Kehutanan, Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), dan Kedutaan Besar Republik Indonesia di Roma.
Dengan fokus Supporting Food Security, Climate Resilience and Community Welfare, SOIFO 2026 menyajikan kondisi dan arah transformasi kehutanan Indonesia. Publikasi ini menghubungkan perlindungan hutan, pemanfaatan berkelanjutan, pemulihan ekosistem, dan peran masyarakat dalam pengelolaan lanskap yang tangguh dan produktif.
SOIFO 2026 mencatat sekitar 95,5 juta hektare tutupan hutan pada 2025, setara 51,1 persen luas daratan nasional. Lebih dari separuh daratan Indonesia masih berhutan, dengan manfaat yang dekat dengan kehidupan sehari-hari: menjaga tata air, mendukung ketahanan pangan, menyimpan dan menyerap karbon, serta melindungi keanekaragaman hayati. Kekayaan ini menjadi modal penting bagi kesehatan lingkungan, penghidupan masyarakat, dan masa depan generasi Indonesia.
Manfaat hutan bagi masyarakat juga tercermin dalam pengembangan Perhutanan Sosial. Hingga Juni 2026, program ini telah memberikan akses pengelolaan sekitar 8,37 juta hektare melalui 11.236 persetujuan, menjangkau sekitar 1,43 juta keluarga. Akses tersebut menjadi landasan bagi masyarakat untuk mengembangkan agroforestri, hasil hutan bukan kayu, dan wisata alam sesuai dengan potensi wilayahnya.
SOIFO 2026 menekankan pentingnya memastikan bahwa akses pengelolaan menghasilkan manfaat yang berkelanjutan. Pendampingan, penguatan kelembagaan, keterampilan usaha, serta dukungan pembiayaan dan pasar diperlukan agar usaha masyarakat berkembang, pendapatan meningkat, dan fungsi hutan tetap terjaga.
Salah satu contoh yang diangkat dalam publikasi ini adalah Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Inisiatif konservasi berbasis masyarakat tersebut mencatat omzet sekitar Rp3,2 miliar per tahun, dengan dukungan 60 pemandu terlatih, 11 penyelam, dan empat personel penyelamatan bersertifikat.
Kawasan yang dipulihkan tersebut juga mendukung keberadaan sedikitnya 45 jenis mangrove dan 55 jenis burung. Pengalaman CMC Tiga Warna menunjukkan bagaimana pemulihan ekosistem dan wisata alam yang dikelola masyarakat dapat membuka lapangan kerja, mengembangkan keterampilan, serta menciptakan sumber penghidupan yang bertumpu pada lingkungan yang sehat.
Selain wisata alam, SOIFO 2026 menguraikan peluang pengembangan ekonomi berbasis hutan melalui hasil hutan bukan kayu, jasa lingkungan, karbon, dan pemanfaatan sumber daya hayati berbasis ilmu pengetahuan. Pengembangan peluang tersebut perlu didukung tata kelola yang baik, ketertelusuran produk, inovasi, serta kemitraan yang menjaga kelestarian dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Peluncuran SOIFO 2026, yang dihadiri oleh Direktur Jenderal FAO QU Dongyu, Duta Besar RI untuk Italia dan Wakil Tetap RI pada badan-badan PBB di Roma Junimart Girsang, Sekjen Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia, perwakilan pemerintah Inggris dan Norwegia, perwakilan Kementerian Kehutanan, dan perwakilan delegasi COFO28, juga sekaligus menjadi ruang dialog mengenai pemanfaatan data hutan yang kredibel untuk kebijakan dan tindakan, penyelarasan konservasi dengan pemanfaatan produktif, serta peran kerja sama internasional dan pembiayaan dalam mendukung pengelolaan hutan berkelanjutan.
Dialog salah satunya menyoroti kerja sama Indonesia–FAO untuk memodernisasi Inventarisasi Hutan Nasional dan Sistem Monitoring Hutan Nasional (SIMONTANA), termasuk melalui inisiatif Monitoring and Enhancement of Remote Sensing for National Targets and Inventory (MERANTI). Penguatan informasi hutan mendukung perumusan kebijakan, pelaksanaan di lapangan, serta akses terhadap pembiayaan iklim berintegritas tinggi.
Melalui SOIFO 2026, Indonesia mengajak mitra internasional memperkuat kolaborasi dalam perlindungan dan pemulihan hutan, pemberdayaan masyarakat, serta pengembangan ekonomi berbasis hutan yang berkelanjutan. Upaya ini mendukung agenda Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 sekaligus memperkuat kontribusi hutan bagi ketahanan dan kesejahteraan masyarakat.
Link unduh dokumen SOIFO 2026: https://drive.google.com/file/d/1GpNRwrGxvs6z7c2d36I_d1GCuBHe-PRA/view?usp=sharing
───
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



