Pemulihan Pascabanjir: Jalan Terbuka, Sungai Dinormalisasi, Warga Mulai Beraktivitas Kembali
Jumat, 02 Jan 2026 | Berita

Penanganan pascabencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah Sumatera terus berjalan. Kementerian Kehutanan bersama lintas sektor masih melakukan pembersihan material kayu dan pemulihan akses warga di Aceh Utara dan Sumatera Utara hingga Kamis (1/1/2026).
Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, upaya pembersihan sisa banjir difokuskan untuk membuka akses jalan dan lorong permukiman warga yang tertutup tumpukan kayu. Sebanyak 16 unit alat berat dikerahkan dari berbagai unsur, termasuk Kementerian Kehutanan, BNPB, BPJN, dan asosiasi pengusaha kehutanan.
Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan mengatakan, pekerjaan di lapangan dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan keselamatan warga serta pemulihan akses dasar.
“Hingga saat ini sekitar 2,3 kilometer akses jalan dan lorong permukiman sudah berhasil dibuka. Fokus kami adalah memastikan mobilitas warga kembali normal dan fasilitas sosial dapat segera difungsikan,” ujar Subhan.
Selain membuka jalan, tim juga membersihkan fasilitas sosial. Di Dayah Darul Aman, Desa Tanjung Dalam, pembersihan dilakukan di ruang makan, kamar santri, dan dapur umum yang terdampak banjir.
Subhan menjelaskan, kondisi di Aceh Utara memiliki tantangan tersendiri karena tingginya kebutuhan kayu untuk membangun kembali rumah warga yang rusak atau hanyut akibat banjir.
“Ada sekitar 420 unit rumah yang terdampak. Masyarakat sangat membutuhkan kayu sisa bencana untuk membangun kembali rumah mereka. Karena itu, penanganannya harus ekstra hati-hati agar tetap tertib dan sesuai ketentuan,” jelasnya.
Koordinasi dengan BNPB, TNI, dan pemerintah daerah terus dilakukan, termasuk dalam pengaturan pemanfaatan kayu sisa bencana yang saat ini masih dalam tahap pendataan dan pendalaman.
Sementara itu, di Provinsi Sumatera Utara, pembersihan tumpukan kayu pascabanjir juga masih berlangsung. Tim gabungan UPT Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, kementerian terkait, swasta, dan relawan mengerahkan puluhan alat berat untuk normalisasi sungai dan pembangunan jembatan Bailey, khususnya di wilayah Sungai Garoga.
Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara Novita Kusuma Wardani menyampaikan, keterlibatan banyak pihak menjadi kunci percepatan penanganan di Sumut.
“Kami bekerja bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, swasta, dan relawan. Penanganan di Sumatera Utara berjalan kolaboratif karena komandonya berada pada Satgas Pemda dan TNI,” kata Novita.
Ia menambahkan, tim Kementerian Kehutanan juga melakukan penghitungan dan pengukuran volume kayu untuk memastikan pengelolaannya tertib dan transparan.
“Saat ini sudah dilakukan pengukuran terhadap 85 batang kayu dengan volume sekitar 63,59 meter kubik. Kami juga mengidentifikasi tumpukan kayu besar di aliran Sungai Batang Toru sebagai langkah antisipasi,” ujarnya.
Pemerintah menegaskan penanganan pascabencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera akan terus dilanjutkan secara bertahap. Prioritas utama tetap pada keselamatan masyarakat, pemulihan akses dan fasilitas umum, serta kehati-hatian dalam pengelolaan material kayu sisa bencana agar benar-benar memberi manfaat bagi warga terdampak.
Jakarta, 2 Januari 2026
Untuk informasi lebih lanjut:
- Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL),
Subhan - Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara,
Novita Kusuma Wardani
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Krisdianto
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter: @kemenhut_ri



