Sekolah Lapang Perhutanan Sosial di Ciloto: Belajar Dari Kearifan Lokal, Menjaga Hutan dan Membangun Kemandirian Ekonomi
Sabtu, 15 Agt 2026 | Siaran Pers

SIARAN PERS
Nomor: SP. 411/HKLN/08/2026
Cianjur, 15 Agustus 2026 — Menjaga hutan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Praktik pengelolaan hutan oleh Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Ciloto, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menjadi contoh bahwa kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pengembangan wisata, agroforestri, dan usaha masyarakat.
Praktik tersebut menjadi bahan pembelajaran dalam Sekolah Lapang Perhutanan Sosial yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan, di Ciloto, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan diikuti perwakilan kelompok Perhutanan Sosial yang menjadi forest heroes dan nominator Penghargaan Wana Lestari tingkat nasional.
Sekolah Lapang dirancang sebagai ruang belajar langsung di lapangan. Peserta tidak hanya mendengarkan paparan, tetapi melihat praktik pengelolaan hutan, berdiskusi dengan masyarakat, serta mempelajari inovasi usaha yang dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.
Direktur Jenderal Perhutanan Sosial Catur Endah Prasetiani mengatakan, pengalaman para penerima dan nominator Wana Lestari harus terus ditularkan agar manfaatnya tidak berhenti pada penghargaan.
“Penghargaan bukanlah akhir, tetapi justru menjadi awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana pengalaman dan keberhasilan yang telah dibangun dapat menjadi contoh dan ditularkan kepada kelompok Perhutanan Sosial lainnya,” tegas Catur.
Menurut Catur, Sekolah Lapang menjadi salah satu cara untuk mempercepat proses pembelajaran tersebut. Melalui pembelajaran langsung, kelompok Perhutanan Sosial dapat melihat praktik yang telah berjalan, mengidentifikasi inovasi, dan menyesuaikannya dengan potensi serta kondisi wilayah masing-masing.
Catur menegaskan, menjaga hutan harus berjalan seiring dengan peningkatan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Salah satu pendekatan yang dapat dikembangkan adalah agroforestri, yang memungkinkan fungsi ekologis kawasan tetap terjaga sekaligus memberikan sumber pendapatan bagi masyarakat.
Bupati Cianjur dalam sambutannya menekankan pentingnya menjadikan kearifan lokal sebagai pijakan dalam mengembangkan potensi daerah. Kekayaan alam dan potensi wisata, menurutnya, harus dikembangkan tanpa mengorbankan keramahan masyarakat, kebersihan, sejarah, hutan, dan lingkungan.
Pemerintah Kabupaten Cianjur juga mendorong peningkatan nilai tambah produk masyarakat melalui penguatan kualitas, sertifikasi, pengemasan, pengolahan, hingga akses pasar. Fasilitasi sertifikasi halal dan perizinan BPOM menjadi bagian dari upaya tersebut, termasuk mendorong produk lokal masuk ke rantai pasok sektor pariwisata dan perhotelan.
Ciloto menunjukkan bahwa ketika kelembagaan masyarakat kuat, potensi lokal dikembangkan, produk diberi nilai tambah, dan para pihak bekerja bersama, hutan dapat tetap lestari sekaligus menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Informasi lebih lanjut:
Sekretarias Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial,
Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial,
Enik Eko Wati
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



