Update Hari ke-48 Penanganan Pasca Bencana: Kemenhut Fokus Pembersihan dan Pemanfaatan Kayu di Aceh dan Sumut
Minggu, 18 Jan 2026 | Berita

Kementerian Kehutanan terus mengintensifkan penanganan kayu sisa bencana hidrometeorologi di sejumlah wilayah terdampak di Provinsi Aceh dan Sumatera Utara. Hingga Sabtu, 17 Januari 2026, upaya pembersihan material kayu, pemulihan fasilitas umum, serta pemanfaatan kayu hanyutan untuk kebutuhan masyarakat masih berlangsung secara terpadu dan berkelanjutan.
Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Kementerian Kehutanan mengerahkan personel untuk melanjutkan aksi bersih fasilitas umum serta pembersihan kayu sisa banjir. Kegiatan ini didukung oleh 40 unit alat berat yang terdiri dari 32 unit milik Kemenhut, 7 unit dari TNI, serta dukungan alat dari PUPR. Hingga hari ini, luas area yang telah dibersihkan mencapai ±16,7 hektare.
Selain pembersihan kawasan permukiman, tim Kemenhut juga melakukan pembersihan halaman dan lapangan SMA Negeri 1 Langkahan dengan melibatkan sekitar 21 personel. Kayu hasil pemilahan di Desa Geudumbak dimanfaatkan untuk pembangunan hunian sementara (huntara) bekerja sama dengan Rumah Zakat.
“Pemanfaatan kayu sisa bencana ini tidak hanya mempercepat pemulihan lingkungan, tetapi juga membantu penyediaan hunian sementara bagi warga terdampak,” ujar Subhan, Kepala Balai Besar TN Gunung Leuser. Hingga saat ini, telah dibangun 24 unit huntara, dengan 6 unit telah dihuni warga, sementara 13 unit masih dalam proses pembangunan dan 5 unit dalam tahap penyelesaian akhir.
Sementara itu di Kabupaten Aceh Tamiang, tim Manggala Agni Kementerian Kehutanan melakukan pembersihan rumah warga dari sisa lumpur, sampah, dan material banjir di Dusun Tengah, Desa Setia, Kecamatan Karang Baru. Pada saat yang sama, tim Gakkum Kehutanan melakukan penjagaan terhadap tumpukan kayu yang telah dikumpulkan dari lingkungan Pesantren Darul Mukhlisin.
Di Provinsi Sumatera Utara, Kementerian Kehutanan melanjutkan penanganan pasca bencana di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol. Sebanyak 3 unit ekskavator capit milik Kemenhut dikerahkan untuk pembersihan material kayu di sekitar permukiman warga dan bantaran Sungai Garoga.
Hingga 17 Januari 2026, jumlah kayu olahan yang dihasilkan mencapai 2.005 keping dengan volume total 28,1147 meter kubik. Dari jumlah tersebut, sebanyak 1.795 keping dengan volume 23,8256 meter kubik telah dimanfaatkan dan disalurkan ke Desa Batu Hula serta dapur umum Desa Garoga guna mendukung kebutuhan masyarakat terdampak.
“Kami mendorong percepatan pemanfaatan kayu hanyutan melalui penambahan operator chainsaw serta penyusunan mekanisme pengelolaan kayu mulai dari identifikasi, pengumpulan, hingga pemanfaatan,” kata Novita, Kepala Balai Besar KSDA Sumatera Utara.
Selain pembersihan kayu, Kementerian Kehutanan melalui UPT BPDAS Asahan Barumun turut melakukan patroli dan pemantauan normalisasi Sungai Garoga. Hingga saat ini, pembersihan sumbatan kayu di sungai telah mencapai ±2,868 kilometer atau sekitar 54,11 persen dari total target sepanjang 5,3 kilometer. Normalisasi dilakukan bersama PUPR dengan mengoperasikan 10 unit alat berat, sehingga aliran Sungai Garoga mulai kembali berfungsi normal hingga ke Jembatan Garoga 1 dan Garoga 2.
Kementerian Kehutanan menegaskan komitmennya untuk terus hadir dalam penanganan pasca bencana melalui pemulihan lingkungan, penataan kayu sisa bencana secara tertib, serta pemanfaatannya secara transparan dan berorientasi pada kepentingan masyarakat.
Jakarta, 18 Januari 2026
Informasi lebih lanjut:
- Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL),
Subhan - Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara,
Novita Kusuma Wardani
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter: @kemenhut_ri



