Bertemu CIRAD, Menhut Perkuat Kerja Sama Kehutanan Berbasis Sains
Selasa, 03 Feb 2026 |
SIARAN PERS
Nomor: SP.24/HKLN/02/2026
Menteri Kehutanan (Menhut) Republik Indonesia, Raja Juli Antoni menerima audiensi Chief Executive Officer (CEO) French Agricultural Research for International Development (CIRAD), Elisabeth Claverie de Saint-Martin di Jakarta, Selasa (3/2/2026). Pertemuan ini merupakan bagian dari tindak lanjut Declaration of Intent (DoI) on Sustainable Forestry yang telah ditandatangani Indonesia dan Prancis pada 28 Mei 2025, sebagai komitmen bersama dalam pengelolaan hutan lestari dan pembangunan berkelanjutan.
Berdasarkan DoI, ruang lingkup kerja sama kehutanan meliputi: (1) Pengelolaan hutan lestari dan pengembangan perkebunan berkelanjutan bebas deforestasi; (2) Perlindungan dan konservasi keanekaragaman hayati serta kawasan konservasi; (3) Restorasi ekosistem hutan dan lanskap terdegradasi; (4) Sistem pemantauan hutan, pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan; (5) Perhutanan sosial, penguatan mata pencaharian masyarakat, ekowisata, dan bioekonomi sirkular; (6) Peran hutan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta penguatan non-carbon benefits; dan (7) Pengembangan posisi bersama di forum internasional kehutanan dan perubahan iklim.
Dalam pertemuan ini, Menhut Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa Ia menyambut baik untuk tindak lanjut kerja sama teknis antara Kementerian Kehutanan dan CIRAD. Menurutnya, bidang kerja sama sejalan dengan mandat Kementerian Kehutanan seperti dalam hal konservasi dan perhutanan sosial, serta perubahan iklim.
Menhut kemudian menyampaikan bahwa program Perhutanan Sosial dapat menjadi awal yang baik dalam kerja sama CIRAD-Kemenhut. Saat ini akses kelola kawasan hutan yang telah diberikan kepada masyarakat melalui Perhutanan Sosial telah mencapai luasan sebesar 8,33 juta Ha dengan 1,4 juta penerima SK dan telah terbentuk 16.754 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).
"Saya berharap nanti kita bersama-sama dapat membuat joint working group yang dalam hal ini dapat kita mulai dari Perhutanan Sosial dan konservasi," ujar Menhut Raja Juli Antoni.
Menhut berharap kerja sama dengan lembaga riset seperti CIRAD dapat memberikan manfaat untuk memperkaya perspektif teknis dan metodologis, termasuk melalui pelatihan, lokakarya, atau kegiatan percontohan berskala terbatas.
Senada dengan Menhut, CEO CIRAD menyampaikan bahwa hutan tropis Indonesia memiliki banyak nilai, system agroforestry yang diterapkan di Perhutanan Sosial dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga Kawasan hutan.
"Tropical Forest seperti di Indonesia, Congo Basin di Afrika, dan Amazonia Basin di Amerika memiliki banyak value dan sumber sains, bukan hanya konservasi tapi juga agriculture yang dalam hal ini adalah agroforestry," ungkap Elisabeth.
Elisabeth mengemukakan contoh kecil bahwa salah satu komoditas agroforestry bernilai adalah kakao. Menurutnya, kakao dapat tumbuh dan bertahan di bawah tegakan pohon dalam hutan, dan nilai ekonominya sangat bagus. Kemudian, dalam bidang perubahan iklim, Elisabeth menyatakan bahwa CIRAD memiliki sumber yang sangat banyak untuk penelitian dampak perubahan iklim dari kawasan hutan.
Pertemuan ini turut dihadiri oleh jajaran pimpinan Kementerian Kehutanan, antara lain Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari, Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, serta Direktur Jenderal Perhutanan Sosial, bersama delegasi Kedutaan Besar Prancis di Indonesia.
Kementerian Kehutanan menegaskan komitmennya untuk terus membuka ruang kerja sama internasional yang konstruktif, terukur, dan berorientasi pada keberlanjutan hutan Indonesia serta kesejahteraan masyarakat.(*)
Jakarta, 3 Februari 2026
Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi
Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri



