Siaran Pers

Hotspot Turun 158 Titik, Kemenhut Fokus Operasi Karhutla

Rabu, 07 Okt 2026 |

hotspot-turun-158-titik-kemenhut-fokus-operasi-karhutla

SIARAN PERS
Nomor: SP.589/HKLN/09/2026

Jakarta, 7 Oktober 2026 - Kementerian Kehutanan terus mempertahankan kesiapsiagaan dan operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah prioritas. Pemantauan terbaru menunjukkan jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional mengalami penurunan dibandingkan sehari sebelumnya, meskipun kondisi di lapangan tetap membutuhkan kewaspadaan.

Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Selasa (6/10) pukul 21.00 WIB, secara nasional terdeteksi 1.201 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence berdasarkan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20. Jumlah tersebut turun 158 titik dibandingkan Senin (5/10) yang mencatat 1.359 hotspot.

Pada enam provinsi prioritas pengendalian karhutla, perkembangan hotspot high confidence tercatat sebagai berikut:
• Kalimantan Tengah: 182 titik, turun dari 569 titik;
• Sumatera Selatan: 71 titik, turun dari 142 titik;
• Kalimantan Barat: 34 titik, turun dari 69 titik;
• Jambi: 21 titik, dari sebelumnya nihil;
• Kalimantan Selatan: 18 titik, turun dari 28 titik; dan
• Riau: nihil, turun dari 4 titik.
Secara keseluruhan, enam provinsi prioritas mencatat 326 hotspot high confidence, turun dibandingkan 812 titik sehari sebelumnya.

Penurunan terutama terlihat di Kalimantan Tengah, namun provinsi tersebut masih mencatat jumlah hotspot tertinggi di antara enam wilayah prioritas. Sementara itu, kemunculan hotspot di Jambi menjadi perhatian untuk segera diverifikasi melalui pemeriksaan lapangan.

Kementerian Kehutanan kembali menegaskan bahwa hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar. Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual serta menentukan tindakan penanganan yang diperlukan.

Operasi Darat dan Udara Tetap Disiagakan
Pengendalian karhutla terus dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak terkait. Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara, yang terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.

Operasi udara dilaksanakan bersama penguatan operasi darat melalui patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, serta pendinginan. Perhatian khusus tetap diberikan pada lahan gambut. Bara api dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meskipun api di atas tanah sudah tidak terlihat, sehingga pembasahan dan pendinginan perlu terus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman. Enam provinsi, yaitu Riau, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, tetap menjadi wilayah prioritas kesiapsiagaan karhutla.

Kondisi Udara Tetap Menjadi Perhatian
Selain perkembangan hotspot, pemerintah terus memantau kondisi udara berdasarkan konsentrasi PM2,5 sebagai bagian dari upaya perlindungan kesehatan masyarakat. Pantauan terkini menunjukkan sebagian besar wilayah Indonesia berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, masih terlihat sejumlah kantong wilayah dengan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat, terutama pada sebagian Kalimantan serta beberapa wilayah Sumatera, Jawa, dan Papua.

Pada bagian tertentu di Kalimantan juga masih terlihat area dengan kategori berbahaya, sehingga masyarakat diminta terus mengikuti perkembangan informasi kondisi udara dan arahan pemerintah daerah. Kondisi udara dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer.

Apabila kualitas udara memburuk, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker apabila harus beraktivitas di luar. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.

Kebakaran hutan dan lahan juga dapat mengganggu habitat, sumber pakan, serta jalur pergerakan satwa liar. Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan terhadap satwa yang terdampak.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan penanganan maupun evakuasi secara mandiri. Jaga jarak, hindari tindakan yang dapat menyebabkan satwa stres atau agresif, catat lokasi serta kondisi satwa apabila memungkinkan, dan segera laporkan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.

Kementerian Kehutanan kembali mengimbau masyarakat dan pelaku usaha untuk tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Penurunan jumlah hotspot secara harian tidak berarti kewaspadaan dapat dikurangi. Kondisi karhutla bersifat dinamis dan dapat berubah dengan cepat mengikuti kondisi cuaca, kelembapan lahan, serta aktivitas di lapangan.

Apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan, masyarakat diminta segera melaporkan kepada petugas agar respons dapat dilakukan sedini mungkin. Kontak pelaporan informasi karhutla di Posko Karhutla Kementerian Kehutanan
• Telepon: 021-5704618
• WhatsApp: +62 8131-00-35000
• Email: posko.karhutla@kehutanan.go.id

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
YouTube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: @kemenhut
X: @kemenhut_ri