Siaran Pers

Penguatan Kelembagaan dan Penyempurnaan SKK-TKK Saka Wanabakti Dorong Transformasi Pembinaan Generasi Kehutanan

Rabu, 13 Mei 2026 |

penguatan-kelembagaan-dan-penyempurnaan-skk-tkk-saka-wanabakti-dorong-transformasi-pembinaan-generasi-kehutanan-1

SIARAN PERS
NOMOR: SP. 169/HKLN/05/2026

Jakarta, 13 Mei 2026 - Saka Wanabakti terus memperkuat perannya sebagai wadah pembinaan generasi muda kehutanan yang adaptif, modern, dan relevan dengan perkembangan teknologi dan isu kehutanan masa kini. Hal tersebut dilakukan melalui kegiatan Penguatan Kelembagaan dan Penyempurnaan Syarat Kecakapan Khusus (SKK) dan Tanda Kecakapan Khusus (TKK) Saka Wanabakti Tahun 2026 yang dilaksanakan secara hybrid di Bogor pada 11-12 Mei 2026.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Sekretariat Pimpinan Saka Wanabakti Nasional dengan dukungan Project Leverage ini diikuti oleh 240 peserta yang terdiri atas unsur Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Pimpinan Saka Wanabakti Nasional, unit kerja lingkup Kementerian Kehutanan, koordinator wilayah, sekretaris wilayah, tim teknis penyempurnaan SKK dan TKK, serta berbagai pemangku kepentingan pengembangan generasi kehutanan.

Dalam arahannya, Plt. Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kementerian Kehutanan, Indra Exploitasia, menegaskan bahwa penyempurnaan SKK dan TKK merupakan kebutuhan mendesak untuk menyesuaikan pembinaan Saka Wanabakti dengan perkembangan sektor kehutanan saat ini.

“Pedoman SKK dan TKK yang digunakan saat ini disusun lebih dari dua puluh tahun lalu, sementara sektor kehutanan telah berkembang sangat pesat. Kita telah memasuki era Forestry 4.0 yang menuntut generasi kehutanan memiliki kompetensi, keterampilan praktis, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi,” ujarnya.

Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan selaku Sekretaris Umum Pimpinan Saka Wanabakti Nasional, Luckmi Purwandari, menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan mampu menghasilkan rumusan awal penyempurnaan SKK dan TKK yang lebih relevan, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan kompetensi generasi muda kehutanan saat ini maupun di masa mendatang.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan penguatan materi kepramukaan dan pengelolaan satuan karya dari unsur Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Materi yang disampaikan membahas penguatan arah pembinaan Saka Wanabakti, strategi pengembangan kelembagaan, prinsip dasar kepramukaan, serta pengelolaan program latihan saka yang adaptif terhadap perkembangan generasi muda dan tantangan lingkungan saat ini. Rangkaian materi ini menjadi pondasi penting bagi anggota Pimpinan Saka Wanabakti Nasional untuk memahami kepramukaan secara lebih utuh.

Pada hari kedua, penyempurnaan SKK dan TKK diarahkan pada transformasi model pembinaan berbasis Triple Track Path, yakni jalur kompetensi kewirausahaan (eco-preneurship), profesi (specialist path), dan kerelawanan (volunteerism). Pendekatan ini diharapkan mampu membentuk anggota Saka Wanabakti yang tidak hanya memahami kehutanan secara teoritis, tetapi juga memiliki kompetensi terapan, daya saing profesional, jiwa kewirausahaan hijau, serta kepedulian sosial dan lingkungan.

Peserta dibagi ke dalam empat Forest Innovation Teams berdasarkan krida, yaitu Krida Tata Wana, Krida Bina Wana, Krida Reksa Wana, dan Krida Guna Wana. Masing-masing kelompok didampingi tim teknis untuk melakukan evaluasi, penyempurnaan, penggabungan, pengembangan, hingga usulan SKK dan TKK baru sesuai kebutuhan pembinaan kehutanan masa kini. Paparan tim teknis juga menekankan pentingnya perubahan paradigma pembinaan dari sekadar “mengetahui” menjadi “mampu berkarya” melalui pendekatan pembelajaran berbasis praktik, inovasi, dan penyelesaian masalah nyata di lapangan. Redesain SKK diarahkan agar menghasilkan output dan outcome yang jelas, terukur, serta memiliki keterkaitan dengan dunia kerja, pengabdian masyarakat, dan pengembangan ekonomi hijau.

Selain membahas substansi materi, forum ini juga menyusun arah standarisasi nasional terkait metode pembinaan, durasi pelatihan, rubrik penilaian, dan mekanisme sertifikasi kecakapan agar pembinaan Saka Wanabakti memiliki kualitas yang lebih terukur dan adaptif terhadap perkembangan zaman.

Melalui kegiatan ini, Saka Wanabakti diharapkan mampu bertransformasi menjadi sistem pembinaan generasi kehutanan yang lebih modern, kolaboratif, adaptif, dan berdampak nyata dalam mendukung pembangunan kehutanan berkelanjutan serta pelestarian hutan Indonesia.

Salam Pramuka!

───
Informasi lebih lanjut:
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan,
Luckmi Purwandari

Penanggung jawab berita:
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerjasama Luar Negeri, Kementerian Kehutanan,
Ristianto Pribadi

Website: www.kehutanan.go.id
Youtube: Kementerian Kehutanan
Facebook: Kementerian Kehutanan
Instagram: Kemenhut
Twitter/X: @kemenhut_ri